Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ternyata Pemprov Jatim Lakukan Modifikasi Cuaca sejak Akhir Desember 2025 untuk Tekan Bencana

Agus Faiz Musleh • Selasa, 24 Februari 2026 | 10:30 WIB

Gubernur Khofifah (depan) bersama Bupati Probolinggo Gus Haris saat meninjau sejumlah dampak bencana di Probolinggo, Senin (23/2)
Gubernur Khofifah (depan) bersama Bupati Probolinggo Gus Haris saat meninjau sejumlah dampak bencana di Probolinggo, Senin (23/2)

KRAKSAAN, Radar Bromo - Langkah antisipatif menghadapi ancaman hidrometeorologi ekstrem sudah dilakukan Pemprov Jawa Timur sejak akhir 2025. Di antaranya dengan melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC).

OMC dilakukan sejak 5 Desember 2025 hingga 10 Februari tahun ini, sebagai salah satu cara menekan potensi hujan berintensitas tinggi yang berisiko memicu banjir dan longsor. Sehingga, mengurangi potensi banjir dan longsor.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan, fenomena hidrometeorologi bukan hanya terjadi di tingkat lokal. Namun merupakan fenomena global yang juga berdampak pada Indonesia, termasuk Jawa Timur yang berada di kawasan ring of fire.

“Kawan-kawan, hidrometeorologi ini sebenarnya fenomena global, fenomena Indonesia, fenomena Jawa Timur. Jawa Timur ini masuk pada ring of fire, jadi memang antisipasi dan mitigasi terhadap bencana alam harus kita lakukan,” katanya di sela-sela peninjauan dampak banjir di Kabupaten Probolinggo, Senin (23/2).

Berdasarkan data BMKG Juanda, menurut Khofifah, potensi hidrometeorologi pada Desember tercatat 20 persen, Januari 58 persen, dan Februari 22 persen.

Karena itu, Pemprov Jatim mengaktifkan OMC sejak awal Desember sebagai upaya pencegahan dini.

Operasi tersebut dibiayai sepenuhnya melalui APBD Provinsi Jawa Timur. Khofifah menegaskan, hingga kini dukungan pembiayaan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk OMC belum tersedia.

Dalam pelaksanaannya, efektivitas OMC bergantung pada jumlah sorti penerbangan.

Setiap hari, maksimal dua hingga tiga sorti dapat dilakukan, sementara titik potensi hujan berdasarkan analisis BMKG bisa lebih dari itu.

“Kalau dari BMKG ada lima titik, kami hanya bisa dua sampai tiga sorti sehari. Yang tidak terintervensi dengan OMC, akhirnya bibit awan yang sudah matang menjadi hujan,” jelasnya.

Setiap sorti membawa 1.000 kilogram garam untuk penyemaian di wilayah laut dan 1.000 kilogram kapur untuk wilayah darat. Penyemaian dilakukan untuk memecah awan sehingga hujan yang turun berintensitas lebih ringan.

Namun sejak 10 Februari, OMC belum dilakukan lagi karena kontrak operasional telah berakhir. Menurut Khofifah, proses perpanjangan kontrak pesawat membutuhkan waktu. OMC akan kembali diaktifkan apabila proses kontrak rampung dan terdapat potensi hujan ekstrem di sejumlah titik.

Di sisi lain, Pemprov Jatim juga mempercepat penanganan dampak kerusakan akibat bencana, khususnya di Kabupaten Probolinggo.

Kerusakan ringan dan sedang ditargetkan segera ditangani agar aktivitas masyarakat dapat kembali normal.

“Apa yang rusak ringan ditangani dulu oleh Pemprov, supaya yang mungkin ada bocor atau jendela rusak bisa segera diperbaiki,” terangnya. (mu/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#khofifah #banjir #hidrometeorologi #longsor #bencana #probolinggo #pemprov jatim