MENDEKATKAN diri kepada Allah SWT., dengan niat ibadah dapat dilakukan dengan berbagai cara. Seperti yang dilakukan oleh Hasanuddin, 41.
Ia memilih menjadi marbot Masjid Siti Aminah Al Askar di Desa Sukokerto, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo.
Sosoknya masih terlihat muda. Tetapi, Hasanuddin tidak canggung ataupun malu untuk menjadi seorang marbot. Baginya menjadi marbot merupakan pekerjaan mulia.
Tidak sembarang dan semua orang mau menjadi marbot. Namun, Hasanuddin bertekad menjaga masjid tetap suci serta nyaman digunakan untuk beribadah.
Hasanuddin mengaku terketuk bersih-bersih di Masjid Siti Aminah Al Askar, karena ketika baru dibangun tidak ada yang mengurus soal kebersihannya.
Hatinya terketuk untuk merawat dan menjaga kebersihan masjid di pinggir jalur pantura ini. Kebiasaan ini kemudian terus tertanam dalam hatinya, hingga akhirnya dipercaya menjadi marbot.
“Sekitar tahun 2019, dulu sebelum masjid sepenuhnya jadi, saya sudah menjaga kebersihannya. Hal itu berlanjut sampai masjid jadi dan difungsikan untuk beribadah,” katanya.
Setiap hari bapak dua anak ini selalu datang ke masjid untuk bersih-bersih. Tugas utamanya membersihkan dan menjaga kesucian bagian dalam dan serambi masjid. Ruangan selalu dijaganya agar tetap nyaman untuk jemaah beribadah.
Kebersihan kamar mandi, tempat wudhu, dan areal parkir kendaraan, juga menjadi tanggung jawabnya. Karena itu, setidaknya satu jam sebelum masuk waktu salat, Hasanuddin harus bersih-bersih areal masjid.
“Semua areal masjid harus bersih. Tetapi, bagian dalam dan toilet yang paling penting untuk dijaga,” ujarnya.
Dengan berada persis di tepi jalur pantura, menjadi tantangan tersendiri bagi Hasanuddin. Sebab, sering menjadi tempat istirahat atau “rest area” pengguna jalan. Pengunjung mampir untuk menunaikan ibadah salat, sekaligus beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
Tak heran jika setiap harinya masjid selalu ramai. Kondisi ini membuat masjid lebih mudah kotor. Namun, Hasanuddin tak pernah mengeluh.
Baginya, banyaknya jemaah menandakan bahwa masjid yang dibersihkan suasananya begitu nyaman, sehingga menjadi jujugan.
“Kalau jemaah banyak yang datang, justru saya senang. Berarti masjidnya nyaman,” ujarnya, tersenyum.
Tidak hanya menjaga kesucian dan kebersihan masjid, dalam melaksanakan tugasnya, Hasanuddin selalu menekankan kejujuran.
Karenanya, saat bersih-bersih masjid, kemudian menemukan barang-barang milik jemaah yang tertinggal, barang tersebut ditaruh dalam etalase khusus. Barang itu tidak akan disentuh sampai pemiliknya mencari atau mengambilnya.
Warga Desa Sukomulyo, Kecamatan Pajarakan, ini mengatakan, ada beberapa barang yang kini berada di etalase masjid. Di antaranya, arloji atau jam tangan, tas, mukenah, dan sarung.
Sebelumnya, ada handphone milik jemaah yang ketinggalan. Tetapi, kemudian pemiliknya minta dipaketkan ke tempat tinggalnya.
“Karena rumahnya jauh, minta dipaketkan. Kami lakukan pengiriman sesuai permintaan pemilik,” bebernya.
Menjadi seorang marbot bagi Hasanuddin merupakan pekerjaan mulia. Bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Selama menjadi marbot, ia tak pernah meninggalkan salat.
Bahkan, jika muadzin dan imam masjid berhalangan datang, ia bertindak akan menggantikannya. Alasannya, agar salat berjemaah tetap berjalan tertib.
Pria yang menyukai salawatan ini mengatakan, menjadi marbot memang ada suka dan dukanya. Ia merasa senang ketika jemaah banyak.
Di sisi lain, menjadi marbot juga tidak ada banyak waktu untuk keluarga. Sebab, sebagian besar waktunya dihabiskan di masjid. Begitu juga saat Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, harus bergantian dengan rekannya untuk membersihkan masjid.
Hasanuddin mengaku akan terus menjaga kesucian dan kebersihan Masjid Siti Aminah Al Askar. Sebab, menjadi marbot merupakan bagian dari kehidupan. Tak hanya mengabdi, tetapi juga mengingat dan beribadah kepada Allah SWT.
“Selama saya mampu dan masih dipercaya menjadi marbot, akan terus dilakukan. Dengan menjadi marbot, saya menemukan ketenangan batin,” ujarnya. (achmad arianto/rud)
Editor : Fahreza Nuraga