KOTAANYAR, Radar Bromo- Akses jalan vital penghubung Kecamatan Kotaanyar dan Pakuniran di Kabupaten Probolinggo, lumpuh.
Jalan kabupaten yang membentang di Desa Sumbercenteng, Kotaanyar tiba-tiba ambrol. Menyisakan lubang menganga seluas kurang lebih 60 meter persegi.
Jalan ini diketahui ambrol pada Minggu (22/2) sekitar pukul 00.30. Peristiwa itu sontak mengejutkan warga sekitar.
Apalagi kejadian itu berlangsung tengah malam, saat sebagian besar masyarakat tengah beristirahat.
Dari pantauan di lokasi, bagian jalan yang runtuh diperkirakan sepanjang 10 meter dengan lebar sekitar 6 meter.
Aspal yang sebelumnya mulus kini terputus, menyisakan jurang dengan aliran air deras di bawahnya. Praktis, jalan itu tak bisa dilalui sama sekali.
Camat Pakuniran, Hasan Zainuri, turun langsung meninjau titik ambrol. Ia menjelaskan, jalan ambrol dipicu oleh hujan yang turun berjam-jam pada Sabtu (21/2) malam hingga Minggu (22/2) dini hari.
Hujan membuat sungai di bawah badan jalan jadi banjir. Derasnya aliran sungai kemudian menggerus tanah penyangga.
Membuat struktur jalan tak lagi kuat menahan beban. Akhirnya, badan jalan amblas dan terputus.
“Di bawah jalan ini memang terdapat aliran sungai. Jadi ada sungai di bawah sungai,” ujarnya di lokasi kejadian.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun, dampaknya sangat besar.
Jalur itu merupakan akses utama warga, termasuk distribusi barang serta hasil pertanian antar kecamatan.
Kini, jalan itu tidak bisa dilalui sama sekali. Sementara kendaraan roda dua masih bisa memanfaatkan jalur alternatif melalui Desa Sumbercenteng dengan tetap waspada.
“Untuk roda dua masih bisa lewat jalur alternatif. Namun, roda empat harus mencari jalur lain,” tegas Hasan.
Karim, salah satu warga setempat mengaku sempat mendengar suara gemuruh keras sebelum jalan ambrol. Suaranya bahkan disebut mirip getaran gempa bumi.
“Tadi malam terdengar suara gemuruh nyaring sekali, seperti bunyi gempa. Ternyata setelah dicek, jalannya sudah ambruk,” tuturnya.
Menurut Karim, ruas jalan tersebut sejatinya bukan kali pertama bermasalah.
Pada 2015, perbaikan sempat dilakukan karena badan jalan mulai tergerus air. Bahkan, bronjong pernah dipasang untuk memperkuat tebing penahan.
“Dulu sudah pernah diperbaiki, sempat dipasang bronjong juga, tapi rusak lagi. Justru saluran air lama yang dibangun sejak zaman Belanda masih kuat sampai sekarang. Yang rusak itu hasil perbaikan yang baru,” ujarnya.
Warga pun berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah cepat.
Selain penanganan darurat pada badan jalan, pembenahan struktur saluran air di bawahnya dinilai menjadi kunci agar kejadian serupa tak kembali terulang.
“Semoga segera mendapatkan perbaikan,” harap Karim.
Sementara itu, Sekretaris Dinas PUPR Kabupaten Probolinggo, Asrul Bustami, menyatakan, pihaknya telah memonitor kejadian tersebut. Asesmen juga sudah dilakukan lapangan.
“Kami tengah melakukan asesmen dan masih melakukan penilaian skala prioritasnya. Jika masuk dalam skema bencana, maka akan dilakukan penanganan melalui BTT. Bisa dikerjakan tahun ini,” ujarnya. (mu/hn)
Editor : Muhammad Fahmi