Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Banjir Rendam Enam Kecamatan di Kabupaten Probolinggo: Ponpes Ikut Terendam, Lansia Dievakuasi

Agus Faiz Musleh • Minggu, 22 Februari 2026 | 20:18 WIB

EVAKUASI: Perahu karet dikerahkan untuk mengevakuasi lansia di Kraksaan, Kabupaten Probolinggo.
EVAKUASI: Perahu karet dikerahkan untuk mengevakuasi lansia di Kraksaan, Kabupaten Probolinggo.

KRAKSAAN, Radar Bromo- Hujan deras selama lima jam yang mengguyur Kabupaten Probolinggo, Sabtu (21/2) malam hingga Minggu (22/2) dini hari, memicu banjir di enam kecamatan.

Ratusan rumah terdampak. Selain itu, sejumlah warga lanjut usia terpaksa dievakuasi akibat genangan air yang mencapai setengah meter.

Banjir terjadi setelah hujan turun sejak pukul 19.00 dengan intensitas tinggi dan durasi cukup lama.

Enam kecamatan yang terdampak meliputi Kraksaan, Krejengan, Besuk, Paiton, Gading dan Tongas.

Di Kecamatan Kraksaan, banjir merendam tiga kelurahan dan lima desa. Kelurahan terdampak yakni Sidomukti, Patokan, dan Kraksaan Wetan.

Sementara desa terdampak meliputi Rangkang, Sidopekso, Bulu, Alas Sumur, dan Kandangjati Wetan.

Ketinggian air bervariasi di titik-titik itu, antara 30 sentimeter hingga 50 sentimeter.

Penyebab banjir di Kraksaan menurut Camat Kraksaan Puja Kurniawan bervariasi. Di antaranya sempitnya saluran air dan debit sungai yang tinggi, seperti Sungai Kertosono.

“Akibat banjir itu, ratusan rumah warga terdampak. Bahkan 6 lansia harus dievakuasi Puskesmas Kraksaan, karena rumahnya terendam banjir. Satu di antara lansia itu ada yang diabetes,” terang Puja, Sabtu (21/2) malam saat ditemui di lokasi banjir.

Di Kecamatan Krejengan, banjir merendam empat desa. Yaitu Desa Jatiurip, Kamalkuning, Opo-opo, dan Krejengan dengan ketinggian air hingga setengah meter.

Lalu di Kecamatan Besuk, banjir melanda Desa Alas Tengah akibat luapan sungai setempat. Namun, genangan dilaporkan tidak berlangsung lama.

Di Kecamatan Paiton, banjir terjadi di sekitar Puskesmas Jabung Sisir dengan ketinggian air sekitar 30 sentimeter.

Selain itu, air juga sempat merendam Pondok Pesantren Nurul Qodim di Desa Kalikajar Kulon setinggi sekitar 50 sentimeter.

Salah satu pengasuh pondok pesantren, KH Hafidzul Hakim Noer membenarkan kejadian tersebut.

“Air sempat masuk ke pondok karena sungai di belakang meluap. Sekarang sudah surut,” katanya.

Adapun di Kecamatan Gading, banjir merendam Pondok Pesantren Zainul Anwar di Desa Mojolegi.

Sementara itu di KecamatanTongas, banjir menerjang Dusun Jalid di Desa Tongas Wetan, Sabtu (21/2) sore.

Sebanyak 21 kepala keluarga (KK) terdampak. Air masuk ke dalam rumah warga dan dilaporkan merusak sejumlah perabotan, termasuk barang elektronik.

Berdasarkan laporan petugas, air mulai masuk ke pemukiman warga setelah azan magrib.

Salah satu warga terdampak, Tugimin, 54, mengatakan air datang dengan cepat dan langsung masuk ke dalam rumah. “Air mulai masuk saat magrib dan baru surut sekitar pukul 22.00,” ujarnya.

Warga sempat berupaya membendung air menggunakan batang pisang dan lumpur di depan pintu. Namun, derasnya arus membuat tanggul darurat itu jebol.

Ia menambahkan, genangan di ruang tamu dan kamar mencapai setinggi mata kaki, sedangkan di dapur mencapai sekitar setengah meter. Sejumlah barang elektronik seperti setrika dan kipas angin tidak sempat diselamatkan.

Menurut Tugimin, banjir kali ini merupakan yang terparah dalam dua tahun terakhir.

Sebelumnya, air hanya menggenangi teras dan tidak sampai masuk ke dalam rumah. Dalam satu musim hujan, banjir bisa terjadi hingga tiga kali.

Kondisi lebih berat dialami Suharti, 74. Rumahnya kemasukan air dari dua arah, yakni dari depan dan belakang karena berbatasan langsung dengan aliran Sungai Kampung Jalid.

Dalam kondisi seorang diri, ia tidak mampu menyelamatkan seluruh barang miliknya.

Akibatnya, tiga kasur terendam dan dua unit kulkas rusak. Sejumlah bahan makanan, termasuk beras, juga ikut terendam sehingga ia tidak dapat memasak.

“Kasur mungkin masih bisa dijemur, tapi kulkas sepertinya sudah tidak bisa dipakai lagi,” katanya, Minggu (22/2).

Petugas Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Probolinggo, Lana menyampaikan, total 21 KK terdampak banjir. Mereka tersebar di RT 01 dan RT 02/RW 02 serta RT 05/RW 02 Dusun Jalid.

“Kami turun untuk membantu evakuasi, asesmen, dan meninjau titik masuknya air. Sekitar pukul 22.00 air berangsur surut. Tidak ada korban jiwa, sementara kerugian materil masih didata,” jelasnya.

Pemerintah daerah pun langsung merespons banjir ini. Tim gabungan bergerak cepat mengevakuasi warga terdampak, terutama kelompok rentan. Seperti evakuasi pada enam lansia.

“Keselamatan warga menjadi prioritas utama. Lansia dan anak-anak kami evakuasi terlebih dahulu,” terang Sekda Kabupaten Probolinggo Ugas Irwanto.

Kepala BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarif menambahkan, pihaknya masih melakukan asesmen untuk mendata kerusakan dan dampak banjir.

“Kami telah menerjunkan petugas untuk evakuasi dan penanganan darurat. Personel tetap disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan lanjutan,” katanya.

Hingga Minggu dini hari, sebagian wilayah mulai berangsur surut. Namun, petugas tetap bersiaga di lokasi terdampak. (mu/gus/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#banjir #Krejengan #besuk #Tongas #paiton #probolinggo #Kraksaan #Gading