SEPERTIGA malam belum benar-benar usai ketika langkah pelan itu menyibak sunyi. Jam menunjukkan pukul tiga dini hari.
Udara masih menggigil. Namun Praptori, 70, sudah berdiri di depan pintu masjid di Desa Sumberlele, Kecamatan Kraksaan. Tangannya terampil membuka kunci, menyalakan lampu, lalu menyapu halaman yang masih basah oleh embun.
Begitulah rutinitasnya puluhan tahun tanpa jeda. Praptori bukan nama besar. Ia hanya marbot di Masjid Al-Azhar.
Namun bagi warga, ia adalah denyut yang menjaga masjid tetap hidup. Sejak usia sekitar 27 tahun, lelaki kelahiran 1956 itu telah mengabdikan dirinya pada rumah ibadah tersebut.
“Dulu masih kecil masjidnya. Ada Pak To, marbot sebelumnya. Setelah beliau meninggal, Kepala Takmir almarhum Ustadz Darudin meminta saya menggantikan. Sekitar tahun 60-an itu,” kisahanya.
Ia tak berpikir panjang ketika diminta. Baginya, waktu itu tak ada yang merawat masjid. “Langsung mau dulu karena tidak ada yang merawat,” ucapnya.
Sejak saat itu, hidupnya menyatu dengan masjid. Di balik kesetiaan itu, Praptori tetap manusia biasa yang harus menafkahi keluarga. Sehari-hari ia bekerja mengayuh becak.
Pagi hari ia menyapu masjid, selepas itu baru membecak. “Setelah nyapu baru membecak,” katanya.
Dulu, penghasilannya dari menarik becak bisa mencapai Rp 7.000 sehari angka yang pada masanya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sederhana.
Dukukan (penumpang,red) memang tak selalu ramai. Namun selain dari becak, ada uang tanda terima kasih dari masjid, meski nominalnya tak besar, tapi cukup.
Ia tak pernah terpikir meninggalkan tugas sebagai marbot. “Ya kebutuhan mbecak ini yang memenuhi sehari-hari.
Tapi saya mau, karena ada barokah dari masjid. Apalagi, rumah saya dekat, hanya 7 meteran dari masjid,” ujarnya lirih.
Kini, masjid yang dulu kecil, telah berkembang menjadi Masjid Jami’ yang luas. Tanggung jawab pun bertambah.
Area yang dibersihkan lebih lebar, lantai lebih banyak, halaman kian panjang.
Rutinitasnya nyaris tak berubah. Pukul tiga dini hari membuka pintu dan menyalakan lampu.
Menyapu halaman untuk persiapan salat Subuh. Sekitar pukul sepuluh pagi, ia kembali mengepel dan merapikan lantai masjid.
Pagi dan sore ia membersihkan, mulai dari halaman hingga seluruh area masjid. Saat waktu salat tiba, ia juga bertugas menjaga keamanan.
“Waktu salat saja jadi keamanan. Jadi komunikasi dengan warga juga pas waktu salat,” ungkapnya.
Jika malam telah sampai pada Isya, semua pintu dikunci rapat. Kecuali saat Ramadan. “Kalau puasa sampai selesai darus, jam 10 malam” tuturnya.
Tak sendiri, Praptori ditemani istrinya, Suparti, 67. Sang istri setia membantu, mulai dari mencuci sajadah hingga membersihkan area sekitar dan ruko.
Kini, dari tugasnya sebagai marbot, ia menerima sekitar Rp 1,5 juta per bulan. Jumlah yang mungkin tak seberapa bagi sebagian orang.
Namun bagi Praptori, cukup untuk menghidupi hari tua bersama istri tercinta.
Ketiga anaknya, dua perempuan dan satu laki-laki telah menikah semua. Ia dan Suparti kini menjalani hari-hari berdua, ditemani gema azan dan desir sapu di halaman masjid.
Praptori adalah wajah ketekunan yang jarang tersorot. Di saat banyak orang terlelap, ia sudah berdiri menyambut fajar.
Di saat orang-orang pulang selepas ibadah, ia memastikan pintu terkunci rapat.
Ia tak mengejar tepuk tangan. Ia hanya menjaga amanah. “Karena ada barokah dari masjid,” katanya lagi.
Dan mungkin benar, di antara lantai yang ia pel, halaman yang ia sapu, dan lampu yang ia nyalakan sebelum Subuh, ada doa-doa yang diam-diam tumbuh untuk lelaki sederhana bernama Praptori. (mu/one)
Editor : Jawanto Arifin