Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sisir Wilayah Banjir di Probolinggo sebelum Normalisasi Sungai

Agus Faiz Musleh • Selasa, 17 Februari 2026 | 09:10 WIB
DIKERUK; Alat berat yang dikerahkan untuk normalisasi di Kali Banger, di Dusun Sumberbanger, Desa Opo-opo, Kecamatan Krejengan, Senin (16/2).
DIKERUK; Alat berat yang dikerahkan untuk normalisasi di Kali Banger, di Dusun Sumberbanger, Desa Opo-opo, Kecamatan Krejengan, Senin (16/2).

KRAKSAAN, Radar Bromo - Upaya menyisir titik-titik rawan banjir terus dilakukan guna menekan risiko bencana saat musim hujan.

Selain mempercepat normalisasi sungai di sejumlah lokasi terdampak, pemerintah juga menyiapkan rencana penanganan di beberapa aliran lain yang selama ini kerap memicu luapan air.

Langkah ini terlihat di aliran Kali Banger, Dusun Banger Dewasa Opo-opo, Kecamatan Krejengan. Pengerukan sedimen dikebut dengan menurunkan alat berat milik bidang sungai, waduk, dan pantai dari PU SDA Jawa Timur.

Normalisasi dilakukan di kedua sisi sungai untuk memperlebar aliran sekaligus memperkuat tanggul penahan air.

Kasi Pemeliharaan dan Rehabilitasi UPT PSDA Welang Pekalen, Windari Wahyu Ningsih, menjelaskan, sedimen hasil pengerukan tidak dibuang.

Tapi dimanfaatkan membentuk tanggul di sempadan kanan dan kiri sungai. Panjang penanganan hampir mencapai 500 meter.

“Selain pengerukan, rumpun bambu di area sungai juga kami bersihkan agar lebar aliran bertambah dan tidak menghambat debit air saat hujan deras,” ujarnya.

Menurut dia, normalisasi tersebut menjadi penanganan awal untuk mengurangi potensi luapan air yang selama ini merendam permukiman warga di wilayah Kecamatan Krejengan.

Meski begitu, sejumlah usulan masyarakat masih akan dievaluasi, terutama terkait efektivitas tanggul baru.

Evaluasi sementara juga menyoroti kondisi jembatan di Dusun Sumberbanger yang dinilai ikut memicu banjir. Struktur penyangga di tengah jembatan menghambat arus saat debit meningkat.

“Perlu revitalisasi jembatan itu. Penyangga di tengah sangat berpengaruh terhadap aliran ketika hujan deras,” tegasnya.

Di luar Kali Banger, pemerintah juga merencanakan normalisasi di beberapa titik lain. Di wilayah Paiton, misalnya, terdapat aliran sungai kecil yang kerap meluber akibat tumpukan sampah peternakan dan pola hidup warga di sekitar bantaran.

Penanganan direncanakan melalui pembersihan dan pelebaran alur agar air tidak lagi meluap ke permukiman.

Rencana serupa juga menyasar Kali Bayeman di Kecamatan Tongas. Sungai tersebut pernah menyebabkan banjir sehingga perlu penataan ulang aliran untuk mengurangi risiko air keluar dari badan sungai saat hujan deras.

Selain itu, normalisasi juga diproyeksikan di kawasan pesisir Kelurahan Triwung Kidul, Kota Probolinggo, sebagai langkah antisipasi mengingat banjir sebelumnya pernah terjadi di wilayah tersebut.

Windari mengapresiasi dukungan masyarakat selama proses pekerjaan berlangsung. Menurutnya, partisipasi warga sangat membantu percepatan normalisasi di lapangan.

“Semua warga kooperatif, tidak ada kendala berarti. Dukungan ini penting agar penanganan banjir bisa cepat dirasakan manfaatnya,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, banjir sempat merendam puluhan rumah di Kabupaten Probolinggo pada awal Januari lalu, termasuk di Desa Opo-opo, Kecamatan Krejengan. Peristiwa tersebut menjadi pengingat pentingnya penanganan menyeluruh, mulai dari normalisasi sungai, perbaikan infrastruktur, hingga perubahan perilaku masyarakat terhadap lingkungan.

Dengan pengerjaan yang terus berjalan serta rencana normalisasi di sejumlah titik tambahan, pemerintah berharap risiko banjir dapat ditekan.

Warga pun diharapkan lebih tenang menghadapi musim hujan mendatang karena aliran sungai semakin tertata dan kapasitas tampung air meningkat. (mu/fun)

Editor : Moch Vikry Romadhoni
#sungai #banjir #normalisasi