Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

BPBD: Wilayah Selatan Probolinggo Tetap Waspada Longsor

Agus Faiz Musleh • Senin, 9 Februari 2026 | 10:30 WIB
AKIBAT HUJAN: Longsor yang terjadi di wilayah Kotaanyar. Selama hujan belum berakhir, potensi longsor masih bisa terjadi.
AKIBAT HUJAN: Longsor yang terjadi di wilayah Kotaanyar. Selama hujan belum berakhir, potensi longsor masih bisa terjadi.

KRAKSAAN, Radar Bromo - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo mengimbau warga terutama yang tinggal di wilayah selatan Kabupaten Probolinggo untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana tanah longsor.

Hal ini menyusul curah hujan tinggi dalam beberapa pekan terakhir yang meningkatkan risiko tanah bergerak di sejumlah lokasi.

“Kami meminta masyarakat di daerah rawan tanah gerak untuk selalu sigap dan tidak lengah. Hujan deras dalam durasi panjang bisa memicu longsor, terutama di lereng perbukitan atau tebing-tebing sungai,” ujar Kalaksa BPBD Oemar Sjarief.

Dari catatan BPBD, sejak 1 Januari 2026 hingga 8 Februari 2026, beberapa kejadian bencana hidrometeorologi tercatat di wilayah kabupaten. Termasuk tanah longsor ringan di Desa Sumberduren, Kecamatan Krucil.

Lokasi rawan lainnya tersebar di beberapa kecamatan seperti Lumbang, Sukapura, Sumber, Tiris, Krucil, Pakuniran, Gading, dan Kotaanyar, yang berada di kaki lereng ataupun lembah sungai sehingga berisiko terhadap tanah longsor saat hujan deras mengguyur.

Memang longsor besar merugikan secara material atau korban jiwa tak ada.

Namun dilaporkan sepanjang periode awal tahun ini, BPBD mencatat dampak luas dari cuaca ekstrem yang juga meliputi banjir bandang, angin kencang, dan erosi di berbagai titik Kabupaten Probolinggo.

Data internal menunjukkan ratusan rumah warga terdampak banjir dan longsor serta sejumlah infrastruktur rusak akibat hujan lebat sepanjang Januari 2026.  

“Kami melihat sebagian besar longsor yang terjadi berupa pergeseran tanah terbatas. Namun, potensi kejadian lebih besar tetap ada ketika hujan deras berlanjut tanpa jeda,” tambah Oemar.

Dia meminta warga yang berada di lereng, dekat tebing maupun di area dengan tanda retakan tanah untuk segera melapor ke BPBD atau perangkat desa.

Selain itu, BPBD juga terus memantau dan menyiagakan relawan serta memperkuat sistem peringatan dini di titik-titik rawan.

Sistem early warning ini diharapkan mampu memberi sinyal kepada masyarakat saat terjadi pergerakan tanah signifikan sehingga evakuasi dapat dilakukan lebih cepat.

Oemar juga menegaskan bahwa mitigasi bukan hanya tugas pemerintahan tetapi juga peran aktif masyarakat.

“Warga perlu menyusun rencana keluarga untuk keadaan darurat, menjaga drainase atau saluran air bersih di sekitar rumah, serta menghindari pembuangan sampah di sungai yang bisa menyumbat aliran dan memicu tanah longsor,” jelasnya.

BPBD akan terus meng-update data kejadian bencana dan menyebarkan informasi mitigasi melalui media sosial, desa-desa, dan pusat komunikasi kebencanaan setempat untuk memastikan semua lapisan masyarakat mendapatkan peringatan dini secara cepat dan efektif. (mu/fun)

Editor : Abdul Wahid
#bpbd #longsor #musim hujan