Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Jalan Berliku Pulangkan Bayi 9 Bulan yang Sempat Telantar di Malaysia ke Pangkuan Keluarga di Kraksaan Probolinggo

Agus Faiz Musleh • Minggu, 1 Februari 2026 | 22:15 WIB
DAMPINGI : Petugas Dinas Sosial mendampingi pemulangan bayi terlantar untuk diserahkan pada keluarga.
DAMPINGI : Petugas Dinas Sosial mendampingi pemulangan bayi terlantar untuk diserahkan pada keluarga.

KRAKSAAN, Radar Bromo–Berbulan-bulan telantar di Malaysia, lantaran ditinggal orang tuanya, bayi berusia 9 bulan akhirnya berhasil dipulangkan ke pangkuan keluarganya di Kraksaan, Kabupaten Probolinggo.

Pemulangan bayi SA melibatkan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI), Pemprov Jawa Timur, Pemkab Probolinggo, hingga pemerintah kecamatan dan kelurahan.

Sinergi lintas sektor itulah yang membuka jalan kepulangan SA ke kampung halamannya.

Selama perjalanan dari Surabaya menuju Probolinggo, SA difasilitasi oleh Pemprov Jawa Timur melalui UPT Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2TK). SA tiba dalam kondisi aman setelah menempuh perjalanan panjang dari Malaysia melalui Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Rabu (28/1).

Bayi SA kemudian diserahkan oleh Nurul Hidayati dari Seksi Perlindungan UPT P2TK kepada Kepala Disnaker Kabupaten Probolinggo Saniwar.

Disnaker kemudian langsung menyerahkan SA ke nenek dari pihak ibu. Penyerahan SA difasilitasi dan dilakukan di Kantor Disnaker Kabupaten Probolinggo.

Kepala Disnaker Kabupaten Probolinggo Saniwar menjelaskan, pihaknya mendapat informasi tentang SA pada September 2025 dari Kedutaan Besar Indonesia.

Saat itu disampaikan bahwa JU, 36, Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Probolinggo melahirkan bayi perempuan di sebuah rumah sakit di Johor, Malaysia.

Bayi ini lahir dalam kondisi sakit paru-paru, sehingga harus menjalani pengobatan di rumah sakit tersebut. Namun, kemudian ibu bayi meninggalkan anaknya di rumah sakit.

Informasi tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui koordinasi lintas negara dan lintas instansi, hingga proses pemulangan dapat direalisasikan.

“Kami sempat berencana untuk langsung memulangkan bayi SA ke Indonesia pada bulan September itu. Namun, pihak rumah sakit melarang. Alasanya, bayi baru boleh dipulangkan setelah benar-benar sembuh. Karena itu, rencana pemulangan ditunda,” terang Saniwar.

Pekan terakhir di bulan Januari, baru kemudian pemulangan pada SA mulai dilakukan. Proses pemulangan berlangsung cepat. Hingga akhirnya, SA berhasil diserahkan ke neneknya di Kraksaan.

Kepala Dinsos Kabupaten Probolinggo Rachmad Hidayanto mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam proses pemulangan tersebut.

Menurutnya, kasus ini menjadi pengingat pentingnya perlindungan bagi pekerja migran dan keluarganya.

“Peristiwa ini harus menjadi perhatian bersama. Kami mengimbau para pekerja migran, khususnya perempuan, agar berangkat keluar negeri melalui jalur yang legal dan prosedural. Bagi yang sudah bekerja, patuhi aturan hukum negara setempat demi keselamatan dan perlindungan diri,” ujarnya.

Pendampingan juga dilakukan sejak awal oleh Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kraksaan, Maidi.

Ia mengungkapkan, keluarga bayi SA berasal dari kalangan kurang mampu, sehingga membutuhkan perhatian dan pendampingan khusus.

“Saya mengetahui betul kondisi keluarga tersebut. Karena keterbatasan ekonomi, kami dampingi mulai dari proses penjemputan sampai pemulangan ke rumah,” ungkap Maidi.

Setibanya di kediaman keluarga di Kecamatan Kraksaan, bayi SA disambut Camat Kraksaan Puja Kurniawan, Lurah Patokan Urip Mujiyono, serta Kepala Puskesmas Kraksaan dr. Heni Rahmawati.

Pemerintah kecamatan langsung memastikan berbagai kebutuhan dasar bayi terpenuhi, termasuk administrasi kependudukan.

“Kami mewakili keluarga mengucapkan terima kasih atas bantuan semua pihak sehingga ananda SA bisa pulang dengan selamat. Untuk administrasi kependudukan, sudah kami percepat dan selesaikan,” kata Camat Kraksaan Puja Kurniawan.

Dari sisi kesehatan, Puskesmas Kraksaan memastikan akan memantau kondisi SA secara berkelanjutan. Rekam medis dari rumah sakit di Johor menjadi rujukan awal penanganan.

“Kami akan mempelajari terlebih dahulu berkas rekam medis dari Johor. Jika diperlukan, akan dilakukan tindakan medis lanjutan,” jelas Kepala Puskesmas Kraksaan, r. Heni Rahmawati.

Pendampingan tidak berhenti sampai di situ. Jumat (30/1), Dinsos Kabupaten Probolinggo mengunjungi bayi SA sebagai bentuk pendampingan lanjutan pascapemulangan.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan bayi serta kesiapan keluarga dalam merawat dan mendukung tumbuh kembangnya.

“Kami hadir untuk memastikan SA dalam kondisi sehat dan keluarga mampu memberikan perawatan yang layak agar tumbuh kembangnya optimal,” ujar JF Pekerja Sosial Muda Dinsos Kabupaten Probolinggo, Dyah Puspitosari.

Dalam kesempatan tersebut, Dinsos juga menyerahkan bantuan berupa perlengkapan kebutuhan anak. “Tidak banyak, namun semoga bisa membantu kebutuhan sehari-hari SA,” imbuhnya.

TKSK Kraksaan Maidi menambahkan, seluruh administrasi kependudukan SA telah rampung, termasuk akta kelahiran. Selain itu, SA juga telah terdaftar sebagai penerima PBID yang dibiayai Pemerintah Kabupaten Probolinggo.

“Semua administrasi sudah selesai dan langsung kami serahkan ke keluarga. Untuk jaminan kesehatan, PBID sudah aktif,” jelasnya.

Nenek SA, yaitu Sumiati 67, tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu cucunya kembali ke rumah.

“Terima kasih kepada bapak dan ibu semua yang telah peduli kepada cucu kami. Tidak ada yang bisa kami balas selain doa, semoga semua kebaikan ini dibalas oleh Tuhan Yang Maha Esa,” ucapnya lirih. (mu/ar/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#bayi #malaysia #telantar #probolinggo #Kraksaan #johor