Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kebut Benahi Tanggul Sungai Sukokerto di Pajarakan Probolinggo yang Jebol usai Banjir

Agus Faiz Musleh • Rabu, 28 Januari 2026 | 07:05 WIB
Petugas BPBD Kabupaten Probolinggo bersama lintas sektor gotong royong memasang bambu dan seksek di tanggul sungai jebol di Desa Sukokerto Kecamatan Pajarakan.
Petugas BPBD Kabupaten Probolinggo bersama lintas sektor gotong royong memasang bambu dan seksek di tanggul sungai jebol di Desa Sukokerto Kecamatan Pajarakan.

KRAKSAAN, Radar Bromo - Jebolnya tanggul sungai di Desa Sukokerto, Kecamatan Pajarakan, tak dibiarkan berlarut.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bergerak cepat melakukan penanganan darurat, guna mencegah dampak banjir meluas di tengah curah hujan yang masih tinggi.

Kepala Pelaksana BPBD Oemar Sjarief menegaskan, langkah cepat tersebut merupakan wujud kesiapsiagaan sekaligus kolaborasi lintas sektor antara pemerintah dan masyarakat.

“Penanganan darurat langsung kami lakukan dengan pemasangan bambu untuk menutup titik tanggul yang jebol. Ini penting agar aliran air tidak semakin meluas dan memperparah genangan,” kata Oemar.

Tak hanya mengandalkan penanganan manual melalui kerja bakti warga. BPBD juga mengerahkan alat berat.

Satu unit excavator diturunkan untuk mempercepat proses normalisasi alur sungai sekaligus memperkuat kembali struktur tanggul yang rusak.

“Excavator kami kerahkan untuk membantu normalisasi sungai dan memperkuat tanggul agar mampu menahan debit air saat hujan susulan,” jelasnya.

Penanganan tanggul jebol ini melibatkan banyak pihak. Mulai dari masyarakat setempat, pemerintah desa dan kecamatan, Pemkab Probolinggo melalui BPBD, DPUPR, Satpol PP, hingga Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui UPT PSDA.

Sinergi tersebut dinilai menjadi kunci utama dalam penanganan bencana yang cepat dan efektif.

Namun Oemar juga menyoroti masih adanya potensi ancaman lain terhadap keberlangsungan fungsi tanggul. Salah satunya aktivitas penanaman pohon keras seperti sengon di badan tanggul.

“Perakaran pohon keras sangat berisiko merusak struktur tanggul. Karena itu kami menghimbau masyarakat untuk menjaga sempadan sungai dan tidak menanam pohon keras di area tanggul maupun bantaran sungai,” tegasnya.

Ia menekankan, pengendalian banjir tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam merawat infrastruktur yang ada.

“Dengan keterlibatan aktif masyarakat, kami berharap tumbuh rasa memiliki. Aset pemerintah dan desa ini harus dijaga bersama demi kemaslahatan dan keselamatan bersama,” pungkas Oemar. (mu/fun)

Editor : Abdul Wahid
#tanggul #bpbd #jebol