KRAKSAAN, Radar Bromo –Hujan deras kembali memicu bencana di Kabupaten Probolinggo. Kamis (22/1) dini hari, tembok penahan tanah (TPT) atau plengsengan Sungai Kertosono tiba-tiba longsor. Sejumlah bangunan yang berdiri di atasnya pun ambruk.
Lokasi TPT yang longsor tepat di Jalan Gus Dur, Kelurahan Sidomukti, Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Longsor terjadi dua kali dalam kurun waktu berbeda dan meninggalkan trauma mendalam bagi warga terdampak.
Nurmaulina, 21, warga RT 1/RW 3, Kelurahan Sidomukti, menjadi salah satu korban longsor tersebut. Akibat TPT longsor, sebagian rumahnya ambruk.
Menurutnya, longsor itu terjadi dua kali. Longsor pertama terjadi pada dini hari sekitar pukul 02.00. Suaranya begitu mengerikan.
“Longsor yang pertama itu pukul 2 pagi. Suaranya gemuruh. Langsung separo ruko tetangga saya ikut longsor dan ambruk ke sungai,” ujar Nurmaulina saat ditemui di rumahnya, Jumat (23/1).
Saat itu, menurutnya, hujan deras sedang turun sejak malam hari. Lalu debit air Sungai Kertosono meningkat tajam, diduga akibat banjir kiriman dari wilayah pegunungan. Air sungai baru surut menjelang pukul 01.30 hingga 02.00.
“Waktu itu hujannya deras sekali. Air sungai juga deras banget, sampai pukul 12 malam masih belum surut,” katanya.
Belum sempat warga bernapas lega, longsor susulan kembali terjadi sekitar pukul 08.00. Namun longsor kedua ini berlangsung tanpa suara peringatan.
“Kalau longsor susulan itu nggak ada suara gemuruh. Tahu-tahu langsung longsor aja. Ini terjadi di rumah saudara saya di sebelah dan belakang rumah saya,” imbuhnya.
Akibat peristiwa tersebut, tiga unit ruko rusak parah. Disusul dua rumah di sebelah ruko yang kondisinya kritis. Yaitu, rumah Nurmaulina dan saudaranya.
Disebut kritis karena TPT sungai di bawah rumah itu juga ambrol. Dua rumah itu akhirnya berdiri tepat di bibir sungai. Namun bangunannya masih utuh.
Nur (panggilannya) bertahan di rumahnya bersama keluarganya. Sementara saudaranya mengungsi. Demikian juga tiga ruko yang rusak parah sudah ditinggalkan penghuninya.
“Kalau rumah saya dibilang parah ya parah. Tapi Alhamdulillah belum longsor seperti sebelah. Ya semoga aja nggak sampai,” ucapnya cemas.
Dia pun mengaku sangat khawatir, terutama saat hujan kembali turun. Nur bahkan nyaris tak bisa memejamkan mata saat hujan deras turun.
“Kalau hujan lama dan deras, saya nggak tidur. Malam itu baru bisa tidur jam tiga pagi. Nunggu hujan benar-benar reda,” katanya.
Jika terjadi longsor susulan, ia mengaku telah menyiapkan rencana evakuasi darurat. Yaitu, mengungsi ke rumah seberang, rumah saudaranya.
“Alhamdulillah masih ada tempat. Kebetulan saya tinggal di rumah bersama mbak dan nenek," pungkasnya. (mu/hn)
Editor : Muhammad Fahmi