Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Demam Berdarah di Kabupaten Probolinggo, Tembus 1.667 Kasus, Kecamatan Paiton Tertinggi

Agus Faiz Musleh • Rabu, 14 Januari 2026 | 16:34 WIB
Ilustrasi DBD
Ilustrasi DBD

KRAKSAAN, Radar Bromo- Penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi pekerjaan rumah serius di Kabupaten Probolinggo. Sepanjang 2025, ditemukan 1.667 kasus DBD. Tersebar hampir merata di seluruh wilayah kecamatan.

Dari data Dinkes Kabupaten Probolinggo, dari 24 kecamatan se-Kabupaten Probolinggo, Kecamatan Paiton menjadi wilayah dengan jumlah kasus paling tinggi. Mencapai 202 kasus. Kecamatan Sumber, tercatat sebagai daerah dengan kasus paling rendah. Hanya empat kasus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Probolinggo dr. Nina Kartika menjelaskan, DBD merupakan penyakit yang disebabkan virus dengue. Ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Tingginya kasus DBD, tidak terlepas dari masih masifnya tempat perkembangbiakan nyamuk di lingkungan permukiman.

“Kasus DBD masih banyak ditemukan karena di sekitar masyarakat masih terdapat sarang nyamuk. Baik di dalam maupun di luar rumah. Genangan air yang dibiarkan menjadi media ideal bagi nyamuk untuk berkembang,” ujarnya.

Selain faktor lingkungan, perubahan cuaca yang tidak menentu serta perilaku hidup bersih dan sehat yang belum konsisten juga ikut berkontribusi terhadap peningkatan kasus. Karena itu, upaya pencegahan tidak bisa dibebankan hanya kepada sektor kesehatan.

“Pengendalian DBD membutuhkan keterlibatan semua pihak. Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama untuk memutus rantai penularan,” katanya.

Untuk menekan angka kasus, Dinkes terus menjalankan berbagai langkah penanggulangan secara terpadu. Salah satunya melalui penguatan koordinasi lintas sektor yang melibatkan organisasi perangkat daerah, pemerintah kecamatan dan desa, hingga partisipasi aktif masyarakat.

“Kami memperkuat sinergi lintas sektor agar pengendalian DBD berjalan lebih efektif. Di sisi lain, fasilitas pelayanan kesehatan juga kami siapkan agar mampu menangani kasus secara cepat dan tepat,” jelas Nina.

Dinkes juga intens melakukan promosi kesehatan terkait pencegahan DBD melalui berbagai saluran, mulai dari media cetak, elektronik, hingga media sosial. Pembentukan kader Jumantik Sekolah turut digencarkan sebagai upaya menanamkan kesadaran sejak usia dini.

Terkait fogging, Nina menegaskan, bahwa metode tersebut tetap dilakukan, namun bersifat terbatas.

Fogging hanya sebagai langkah tambahan dan dilakukan di wilayah tertentu dengan kasus tinggi. Pencegahan utama tetap pada PSN dan perubahan perilaku masyarakat,” tegasnya. (mu/rud)

Editor : Fahreza Nuraga
#dbd #Kecamatan #probolinggo #demam berdarah