Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Siapkan Travel Pattern Bermi Sebagai Konsep Baru Pengembangan Wisata di Probolinggo

Agus Faiz Musleh • Selasa, 13 Januari 2026 | 09:05 WIB

 

WISATA: Air terjun Guyangan di Kecamatan Krucil menjadi salah satu wisata andalan Kabupaten Probolinggo.
WISATA: Air terjun Guyangan di Kecamatan Krucil menjadi salah satu wisata andalan Kabupaten Probolinggo.

KRAKSAAN, Radar Bromo-Kabupaten Probolinggo menyiapkan konsep baru pengembangan pariwisata. Pola lama yang menjual destinasi secara terpisah mulai ditinggalkan.

Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) kini merancang jalur wisata terpadu atau travel pattern kawasan Bermi yang meliputi Kecamatan Krucil, Tiris, dan Gading.

Melalui konsep ini, potensi wisata desa-desa di kawasan Bermi dirangkai dalam satu alur perjalanan.

Wisatawan tidak lagi datang untuk satu tujuan semata. Melainkan diarahkan menikmati sejumlah destinasi yang saling terhubung dalam satu kawasan.

Kepala Disporapar Heri Mulyadi melalui Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata, Umi Subiyantiningsih, menyebut penyusunan travel pattern menjadi langkah strategis agar pengembangan wisata berjalan lebih terencana.

“Selama ini destinasi berkembang sendiri-sendiri. Dengan travel pattern, kami ingin menghubungkan antar desa dan antar destinasi sehingga wisatawan mendapatkan pengalaman perjalanan yang utuh,” ujar Umi.

Ia menjelaskan, kawasan Bermi menyimpan beragam daya tarik wisata alam dan budaya yang tersebar di banyak desa.

Namun tanpa pemetaan rute yang jelas, potensi tersebut sulit dikemas maksimal. Karena itu travel pattern disusun untuk menentukan jalur kunjungan, jarak tempuh, serta urutan destinasi yang logis dan efisien.

“Wisatawan jadi punya gambaran. Datang ke Bermi tidak hanya berhenti di satu titik, tetapi bisa menjelajah beberapa destinasi dalam satu perjalanan,” tambahnya.

Proses penyusunan pola perjalanan ini dilakukan bertahap. Disporapar melibatkan pemerintah desa wisata serta kelompok sadar wisata (pokdarwis) sejak awal. Rapat perdana digelar pada 24 November 2025 di Kantor Bupati Probolinggo.

Dalam pertemuan tersebut, masing-masing desa diminta memaparkan destinasi unggulan yang dinilai siap dikembangkan.

Usulan disampaikan melalui formulir khusus yang kemudian menjadi dasar pemetaan potensi wisata kawasan.

“Kami memulai dari bawah. Desa yang paling memahami kondisi lapangan dan kesiapan destinasi mereka,” jelas Umi.

Tahap berikutnya dilakukan melalui rapat lanjutan secara daring. Forum ini digunakan untuk membedah usulan desa satu per satu, mengevaluasi kesiapan destinasi, sekaligus merumuskan konsep travel pattern yang realistis untuk ditawarkan ke pasar wisata.

“Di sini kami menyamakan persepsi. Mana yang sudah siap dijual, mana yang masih perlu pendampingan, serta bagaimana urutan rutenya,” imbuhnya.

Puncak rangkaian penyusunan travel pattern kawasan Bermi ditandai dengan kegiatan Travel Dialog yang digelar di Bermi Eco Park, Kecamatan Krucil. Forum ini mempertemukan langsung pengelola destinasi dengan pelaku industri pariwisata.

Kepala desa, Pokdarwis, dan pengelola wisata yang masuk dalam peta travel pattern diberi ruang mempresentasikan konsep, keunggulan, serta kesiapan destinasi di hadapan agen perjalanan dan pemandu wisata.

“Kami ingin mereka berbicara langsung, menyampaikan sendiri daya tarik yang dimiliki tanpa perantara proposal atau laporan tertulis,” ungkap Umi.

Dialog tersebut melibatkan sejumlah pemangku kepentingan industri perjalanan, mulai dari travel agent profesional Jawa Timur, DPC Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Probolinggo, DPC Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (AITTA) Probolinggo, hingga Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur.

Keterlibatan pelaku industri dinilai krusial agar travel pattern tidak berhenti sebagai dokumen perencanaan. Namun benar-benar diterjemahkan menjadi paket wisata yang siap dipasarkan.

“Target kami bukan hanya peta dan konsep. Yang terpenting ada kerja sama pemasaran yang berkelanjutan,” tegasnya.

Disporapar berharap pola perjalanan kawasan Bermi dapat menjadi contoh pengembangan pariwisata berbasis kawasan di Kabupaten Probolinggo. Dengan pendekatan ini, dampak ekonomi pariwisata diharapkan lebih merata dan tidak terpusat pada satu destinasi saja.

“Kalau wisatawan berkunjung ke beberapa desa, dampak ekonominya ikut menyebar. UMKM, homestay, hingga pemandu lokal akan ikut bergerak,” jelas Umi.

Bagi wisatawan, keberadaan travel pattern juga mempermudah perencanaan perjalanan. Jalur yang jelas membuat perjalanan lebih efisien, aman, dan nyaman.

“Harapannya wisatawan bisa merencanakan perjalanan dengan lebih matang. Pengalaman wisatanya lebih berkesan dan tidak membingungkan,” pungkasnya. (mu/fun)

Editor : Abdul Wahid
#pemkab probolinggo #kabupaten probolinggo #wisata #bermi 1 #travel pattern