KRAKSAAN, Radar Bromo-Kawasan industri hasil tembakau (KIHT) Kabupaten Probolinggo kian menguat. Belum lama ini Bupati Probolinggo Mohammad Haris menerima rombongan sepuluh investor asal Tiongkok.
Mereka datang untuk mematangkan rencana survei lapangan sekaligus penjajakan penanaman modal bukan hanya di sektor industri tembakau. Tapi juga pariwisata.
Dalam pertemuan itu, Gus Haris didampingi sejumlah pejabat strategis, di antaranya anggota TP2D Hamim Wajdi, Asisten Perekonomian dan Pembangunan M. Sjaiful Efendi, Kepala DKUPP Sugeng Wiyanto, Kepala Bapelitbangda Juwono Prasetijo Utomo, serta Kabag Perekonomian dan SDA Arie Kartikasari.
Para investor menyampaikan ketertarikan mereka untuk menanamkan modal di KIHT mulai dari pembangunan pabrik hingga pengembangan industri pengolahan hasil tembakau. Selain itu, sektor wisata juga masuk radar, termasuk kawasan Ranu Segaran, Kecamatan Tiris.
President Director PT Adhi Sun Fund, Qin Kebo, menilai Probolinggo memiliki peluang besar menjadi pusat industri hasil tembakau nasional.
“Lahan KIHT sangat luas dan potensinya jelas. Kami melihat peluang besar untuk membangun pabrik tembakau di sini. Bila dipadukan dengan potensi wisata, nilai investasinya bisa jauh lebih berkembang,” ujarnya.
Qin juga mengaku terkesan dengan kunjungan perdananya ke Probolinggo. Menurutnya, daerah ini menawarkan ruang investasi yang jarang ditemui di wilayah lain.
“Ini kali pertama kami ke sini, dan kami melihat lokasinya sangat menjanjikan. Setelah proyek awal, kami juga terbuka untuk masuk ke sektor lain,” katanya.
Tidak hanya tembakau, Qin menilai tanah Probolinggo cocok untuk budi daya tanaman bernilai tinggi, termasuk komoditas bunga untuk pasar ekspor.
“Tanah di sini (Probolinggo, red) subur untuk berbagai jenis tanaman. Di Tiongkok, satu hektare melati bisa bernilai miliaran rupiah. Jika semuanya berjalan baik, kami siap memperluas investasi ke energi dan infrastruktur,” tambahnya.
Sementara itu, Gus Haris menyambut positif minat tersebut. Ia menyebut kedatangan investor Tiongkok merupakan tindak lanjut dari kunjungan Pemkab Probolinggo ke sejumlah kawasan industri di Shenzhen dan Guangdong.
“Ini bentuk balasan mereka untuk melihat langsung potensi kita. Probolinggo punya keunggulan geografis dari dataran rendah sampai pegunungan 2.500 meter. Itu menjadi nilai tawar yang tidak dimiliki banyak daerah,” ujarnya.
Menurut Gus Haris, investasi di KIHT diharapkan menjadi angin segar bagi petani tembakau lokal.
“Kami ingin hilirisasi tembakau berjalan lebih cepat, harga petani lebih baik, dan industri pengolahan tumbuh di daerah sendiri. Progresnya alhamdulillah mengarah positif,” terangnya.
Ia menambahkan, peluang investasi tidak hanya berhenti pada industri tembakau. “Kami berharap ini menjadi pintu masuk bagi investasi sektor pariwisata, industri pengolahan, ketahanan pangan, hingga sektor strategis lainnya,” imbuhnya.
Sebelum menemui Bupati, rombongan investor asal Tiongkok lebih dulu meninjau lokasi KIHT di Desa Sumberrejo, Kecamatan Paiton. Usai dari kantor bupati, mereka melanjutkan survei ke Ranu Segaran, kawasan industri Gending, serta destinasi Bromo. (mu/fun)
Editor : Abdul Wahid