Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Target Jadi Gerbang Wisata Jawa Timur, Dorong Desa Wisata di Kabupaten Probolinggo Masuk Ekosistem Digital

Agus Faiz Musleh • Jumat, 28 November 2025 | 16:00 WIB
ANDALAN: Wisatawan menikmati Gunung Bromo di pagi hari. Bromo, Bermi dan Bentar masih menjadi mercusuar wisata di Kabupaten Probolinggo.
ANDALAN: Wisatawan menikmati Gunung Bromo di pagi hari. Bromo, Bermi dan Bentar masih menjadi mercusuar wisata di Kabupaten Probolinggo.

KRAKSAAN, Radar Bromo - Kabupaten Probolinggo terus memantapkan langkah untuk menjadi gerbang wisata Jawa Timur. Konsep gerbang wisata bukan sekadar menghadirkan destinasi menarik, namun menghadirkan ekosistem kepariwisataan yang lengkap dan saling terhubung.

“Kalau bicara gerbang wisata, tidak hanya objek wisatanya saja. Saat ini Bupati juga membuka peluang bahwa Probolinggo merupakan miniatur Jawa Timur,” ujar Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Dispopar) Kabupaten Probolinggo, Heri Mulyadi.

Dia menjelaskan bahwa Kabupaten Probolinggo masih memiliki tiga destinasi utama yang disebut 3B, yakni Bromo, Bermi, dan Bentar, yang berperan sebagai mercusuar pengembangan wisata daerah.

Ketiga destinasi tersebut tidak berdiri sendiri. Masing-masing memiliki wisata penyangga yang memperkuat daya tarik kawasan.

“Wisata tersebut memiliki wisata-wisata penyangga, baik wisata alam, kuliner, dan lain sebagainya. Potensi ini juga akan dimaksimalkan kepada potensi lain seperti pelabuhan,” jelasnya.

Kata Heri, potensi wisata Probolinggo sangat besar karena tiap destinasi unggulan memiliki kekuatan tambahan.

“Penyangganya di Bromo ada banyak potensi pendukung. Bermi Gading ada arung jeram, Pantai Bentar juga punya alam dengan view-nya yang luar biasa,” tuturnya.

Salah satu langkah nyata pemerintah dalam mengangkat potensi daerah ialah dengan menggelar berbagai event, termasuk Save Lakes, sebuah kegiatan yang mempromosikan kekayaan wisata dan budaya Kabupaten Probolinggo.

“Seven Lakes yang mengenalkan wisata-wisata dan budaya di Kabupaten Probolinggo,” kata Heri.

Tak hanya mengandalkan destinasi besar dan event, pemerintah juga memperkuat fondasi wisata dari tingkat desa. Heri menyebut bahwa pengembangan desa wisata menjadi bagian penting menuju Probolinggo sebagai gerbang wisata Jawa Timur.

“Pemkab juga memaksimalkan penguatan pada desa wisata. Tahun ini ada 36 desa wisata yang telah ditetapkan dalam program Dewi Sae (Desa Wisata Sae),” terangnya.

Dengan penguatan destinasi utama, wisata penyangga, pelabuhan, budaya, hingga desa wisata, Heri optimistis bahwa Probolinggo mampu menjadi pintu masuk wisatawan menuju kekayaan pariwisata Jawa Timur.

Tantangan promosi wisata berbasis digital mendorong desa-desa wisata di Kabupaten Probolinggo untuk berbenah. Dalam sebuah pelatihan yang digelar Disporapar di The Bentar Beach, Gending, Selasa (25/11), para pengelola wisata diminta memperkuat tata kelola informasi dan meningkatkan kualitas konten digital agar tidak tertinggal di persaingan industri pariwisata.

Sebanyak 72 peserta dari 36 desa wisata mengikuti pelatihan tersebut. Mereka meliputi perangkat desa dan pengelola yang selama ini bertanggung jawab atas informasi dan aktivitas promosi masing-masing destinasi.

Materi pelatihan menyasar kebutuhan dasar digitalisasi pariwisata: pengenalan website desa, pemanfaatan aplikasi SAE Smart Tourism, hingga strategi memaksimalkan media sosial untuk promosi dan personal branding pelaku wisata. Para pemateri berasal dari Diskominfo, Gema Digital Kreatif, dan Cipta Legasi Indonesia.

BELAJAR: Pelatihan yang digelar Disporapar di The Bentar Beach, Gending, Selasa (25/11) lalu.
BELAJAR: Pelatihan yang digelar Disporapar di The Bentar Beach, Gending, Selasa (25/11) lalu.

Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata Disporapar, Umi Subiyantiningsih  menyebutkan, banyak desa wisata yang sebenarnya punya potensi kuat.

Namun kalah bersaing karena informasi yang beredar tidak lengkap atau tidak mutakhir. Ada destinasi yang aktif di media sosial tetapi minim data dasar.

Ada pula yang punya potensi besar, tetapi kurang dikenal karena tidak memiliki kanal informasi.

Umi menegaskan bahwa kondisi tersebut membuat wisatawan kesulitan mendapatkan gambaran akurat mengenai atraksi, fasilitas, maupun akses menuju desa wisata.

“Ketika data tidak seragam dan sulit diakses, desa wisata otomatis tertinggal. Industri pariwisata sekarang bergerak lewat informasi digital yang jelas dan kredibel,” katanya.

Maka pelatihan  diarahkan untuk membenahi tiga aspek: kompetensi operator, kelengkapan data dalam sistem, dan kualitas promosi digital. Kepala Dispopar Heri Mulyadi, menyebut digitalisasi sebagai kebutuhan dasar, bukan tambahan.

Desa wisata yang mengandalkan promosi konvensional akan kesulitan mengejar ketertarikan wisatawan yang kini cenderung mencari informasi lewat mesin pencari dan media sosial.

“Wisatawan memilih tujuan berdasarkan informasi yang paling mudah ditemukan. Kalau datanya tidak lengkap, ya mereka beralih ke destinasi lain,” ujarnya.

Heri menekankan pentingnya pengelola desa wisata menguasai keterampilan dasar pengelolaan data. Tanpa itu, kata dia, promosi digital hanya menjadi formalitas tanpa dampak.

Dengan pelatihan ini, pemerintah daerah berharap desa wisata mampu menampilkan dirinya secara lebih profesional di ruang digital. Data yang lengkap dan konten yang konsisten dipandang sebagai kunci membangun reputasi destinasi.

Digitalisasi, kata Heri, bukan sekadar memasukkan data ke sistem, tetapi bagaimana informasi itu bisa memperkuat citra destinasi dan menarik minat pengunjung.

“Kalau kontennya kuat, wisatawan datang. Dan ketika wisatawan datang, efek ekonominya bisa dirasakan masyarakat,” ujarnya. (mu/fun)

Editor : Abdul Wahid
#pemkab probolinggo #bentar #bromo #bermi 1 #pariwisata