PROBOLINGGO, Radar Bromo-Lebih dari seminggu, Syehlendra Haical Raka Aditya atau yang akrab dipanggil Haical, 13, terbaring di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo.
Santri asal Desa Sepuh Gembol, Kecamatan Wonomerto, Kabupaten Probolinggo ini menjadi korban ambruknya musala pada Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Senin (29/9) lalu.
Rabu (8/10), Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris atau Gus Haris bersama Ketua TP PKK Kabupaten Probolinggo Ning Marisa Juwitasari serta sejumlah OPD terkait datang ke rumah sakit untuk menjenguk Haikal.
Tak hanya itu, mereka juga memberikan semangat kepada Haikal yang kini menjalani perawatan intensif usai amputasi kaki kiri.
“Kami datang untuk menguatkan, memastikan kondisi fisik dan psikologis Haikal baik serta menjamin pendidikannya ke depan,” katanya.
Gus Haris menegaskan, pemerintah daerah akan memastikan pendampingan total bagi Haikal mulai dari aspek medis, psikologis hingga keberlanjutan pendidikan.
“Kami ingin Haikal tumbuh kuat dan tetap semangat mengejar cita-citanya. Pemerintah Kabupaten Probolinggo siap mendampingi proses pemulihannya,” tambahnya.
Usai menjenguk, Gus Haris dan rombongan juga meninjau lokasi reruntuhan musala Pondok Pesantren Al Khoziny.
Di lokasi itu, Gus Haris mengajak semua pihak berdoa bersama dan menyerukan pentingnya kewaspadaan serta peningkatan keamanan bangunan pondok pesantren.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo, dr. Hariawan Dwi Tamtomo memastikan kondisi Haikal kini stabil dan terus membaik.
Pemerintah daerah telah menyiapkan program trauma healing yang akan dilakukan secara berkelanjutan.
“Setelah pulang dari rumah sakit, Haikal akan mendapat pendampingan dari tim medis, psikolog dan psikiater agar bisa pulih secara fisik dan mental,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo, Rachmat Hidayat mengatakan bahwa pihaknya juga menyiapkan dukungan sosial dan edukatif bagi keluarga Haikal.
“Termasuk pemenuhan kebutuhan logistik dan akses layanan sosial selama masa pemulihan,” bebernya.
Diketahui sebelumnya, Haikal sempat terjebak di bawah reruntuhan musala selama tiga hari dua malam. Ia terjepit beton, miring ke kiri, tangannya kebas, dan kaki kirinya tertindih coran.
Meski demikian Haikal tak meninggalkan salatnya. Di tengah reruntuhan, ia masih sempat menunaikan salat Isya berjamaah bersama temannya yang juga terhimpit tak jauh dari posisi Haikal. Haikal bahkan menepuk pundak temannya itu untuk ikut salat.
“Seperti ada yang mengimami katanya, tapi anak saya tak tahu itu siapa. Dia masih membangunkan temannya untuk saalat. Tapi saat Subuh tiba, temannya itu sudah tidak lagi menyahut,” kisah ayah Haikal, Abdulhawi, 33. (gus/fun)
Editor : Abdul Wahid