Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Desa Maron Kulon Perkuat Ekonomi dengan Bangun Peternakan Bebek di Semua Dusun

Jamaludin Uno • Jumat, 10 Oktober 2025 | 00:18 WIB
BANYAK; Salah satu peternakan bebek potong di Desa Maron Kulon, Kecamatan Maron yang terus berkembang.
BANYAK; Salah satu peternakan bebek potong di Desa Maron Kulon, Kecamatan Maron yang terus berkembang.

Desa Maron Kulon, Kecamatan Maron kini semakin dikenal sebagai kampung bebek. Julukan itu muncul berkat keberhasilan Pemerintah Desa (Pemdes) Maron Kulon dalam memberdayakan warganya melalui program peternakan bebek potong yang terus berkembang pesat.

 

SAAT ini ada enam kandang bebek potong yang tersebar di enam dusun di wilayah desa tersebut. Menariknya, setiap kandang dikelola langsung oleh ketua RT dan RW setempat.

Hasil dari usaha ternak ini digunakan sebagai kas RT serta menjadi insentif atau honor tambahan bagi para ketua RT dan RW.

Kepala Desa Maron Kulon, Hasan Basri menjelaskan, program pemberdayaan melalui peternakan bebek potong ini telah dimulai sejak tahun 2024.

Hal ini tidak terlepas dari keinginannya untuk menumbuhkan semangat wirausaha dan kemandirian di desa yang dipimpinnya.

“Kami berdayakan para ketua RT dan RW agar bisa ikut mengelola usaha produktif berupa peternakan bebek potong. Hasilnya, bukan hanya untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Tetapi juga memperkuat kas RT. Ini juga sebagai upaya kami untuk menanamkan kemandirian,” ujarnya.

Melihat prospek yang cukup menjanjikan, Hasan berencana menambah jumlah kandang di setiap dusun pada tahun depan. Sehingga, nantinya ada 12 kandang di tiap dusun.

“Di sini ada 12 RT dengan 6 RW. Target kami tahun depan, masing-masing RT memiliki peternakan bebek,” tuturnya optimistis.

Ia mengatakan, dalam program peternakan ini, seluruh kebutuhan mulai dari pembangunan kandang, bibit, hingga pakan disediakan oleh pemdes. Para pengelola hanya bertugas merawat bebek hingga siap panen.

Menurutnya, sebagai pendukung, Pemdes Maron Kulon saat ini juga telah memiliki mesin penetas telur sendiri dan indukan bebek unggulan agar menghasilkan bibit berkualitas. “Kami sudah punya indukan yang bagus dan mesin penetas sendiri, jadi bisa mandiri,” tambahnya.

PASAR; Dua warga Maron kulon menjual daging bebek potong di pasar tradisional. Daging bebek sementara dijual di Pasar Maron dan Pasar Semampir, Kraksaan.
PASAR; Dua warga Maron kulon menjual daging bebek potong di pasar tradisional. Daging bebek sementara dijual di Pasar Maron dan Pasar Semampir, Kraksaan.

Selain pengembangan peternakan bebek, Pemdes Maron Kulon melalui BUMDes Amanah juga menjalankan program ketahanan pangan dengan membentuk lumbung padi desa.

Program ini bekerja sama dengan penggilingan padi (selep) setempat untuk menampung hasil panen petani.

“Tujuannya petani tidak kesulitan menjual hasil panen dengan harga terbaik. Kami beli padi dan jagung dari petani setempat, kemudian hasilnya dijual kembali ke warga.Intinya semuanya berputar disini, kami ingin menciptakan pasar sehat. Pasar yang berpihak kepada petani, termasuk peternak bebek,” terang Hasan.

 

Buka Kios di 2 pasar Hingga Jualan online

 

PEMERINTAH Desa (Pemdes) Maron Kulon melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Amanah, terus melakukan sejumlah inovasi untuk menjaga agar harga jual bebek potong tetap stabil dan menguntungkan bagi peternak.

Selama ini, harga bebek potong sering jatuh karena dijual langsung ke tengkulak dengan harga rendah.

Melihat kondisi itu, BUMDes Amanah melakukan terobosan baru dengan menjual sendiri daging bebek potong tersebut. Yakni, dengan membuka bedak atau kios penjualan daging bebek di Pasar Maron, Kecamatan Maron dan Pasar Semampir, Kecamatan Kraksaan.

Kepala Desa Maron Kulon, Hasan Basri, mengatakan sejak Sabtu (27/9) lalu, BUMDes Amanah mulai memasarkan bebek potong yang sudah dibersihkan langsung ke Pasar Semampir dan Pasar Maron.

Harga jualnya mencapai Rp 40 ribu per kilogram, jauh lebih tinggi dibanding jika dijual ke tengkulak.

MODERN: Untuk kebutuhan bibit unggul, saat ini BUMDes Amanah sudah memiliki mesin penetasan sendiri
MODERN: Untuk kebutuhan bibit unggul, saat ini BUMDes Amanah sudah memiliki mesin penetasan sendiri

“Langkah ini kami ambil supaya harga bebek potong di tingkat peternak tetap tinggi. Selama ini tengkulak menekan harga terlalu rendah, sekarang harganya Rp 18 ribu perkilogram. Dengan menjual langsung ke pasar, peternak bisa mendapatkan keuntungan yang lebih layak,” jelas Hasan Basri.

Selain menjual bebek segar dan berkualitas di pasar, BUMDes Amanah juga mengembangkan produk olahan bebek ungkep yang dijual secara daring (online) dengan harga Rp 55 ribu per kemasan. Inovasi ini tidak hanya memperluas jangkauan pasar, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga setempat.

“Saat ini, BUMDes Amanah mampu menjual sekitar 100 ekor bebek potong setiap hari, baik di pasar tradisional maupun melalui penjualan online. Bebek-bebek tersebut berasal dari peternakan warga kami, seperti yang di dikelola oleh ketua RT dan RW di desa ini,” jelasnya.

INOVATOR: Kepala Desa Maron Kulon, Hasan Basri memegang dua kemasan bebek ungkep yang dijual secara online.
INOVATOR: Kepala Desa Maron Kulon, Hasan Basri memegang dua kemasan bebek ungkep yang dijual secara online.

Hasan Basri menambahkan, pihaknya berharap kegiatan ekonomi warga ini mendapat perhatian dan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Probolinggo, terutama dalam hal pengelolaan dan pengembangan pasar.

“Misalnya, program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan pasokan daging bebek, kami siap bekerja sama. BUMDes Amanah sudah siap dari sisi produksi dan distribusi,” ujarnya. (uno/fun/*)

Editor : Fandi Armanto
#Desa Maron Kulon Kecamatan Maron