DRINGU, Radar Bromo - Pemadam Kebakaran Kabupaten Probolinggo hingga kini mewaspadai potensi kebakaran lahan dekat pemukiman.
Selama musim kemarau hingga pekan kedua September, tercatat telah terjadi 18 insiden kebakaran lahan disebabkan kelalaian masyarakat.
Kepala Bidang Pengendalian Bahaya Kebakaran dan non Kebakaran Satpol PP Kabupaten Probolinggo Andrea Persaulian mengatakan, damkar telah menerima laporan kebakaran lahan.
Secepatnya petugas menindaklanjutinya dengan melakukan pemadaman.
Keseluruhan kebakaran lahan yang telah dilaporkan mayoritas disebabkan oleh kelalaian masyarakat yang membakar sampah kemudian ditinggal begitu saja.
Sementara kondisi angin cukup kencang sehingga mudah membesar dan merembet ke wilayah kering lainnya.
“Kebakaran lahan dekat pemukiman sampai saat ini masih saja terjadi. Penyebabnya karena sengaja dibakar terus merembet,” katanya.
Kebakaran lahan berpotensi terjadi di semua tempat. Jika ada sumber api karena sengaja membakar sampah kemudian ditinggal begitu saja tanpa diawasi.
Ataupun karena ketidaksengajaan membuang puntung rokok dalam kondisi menyala. Api dapat dengan mudah membesar dan merembet.
Damkar Kabupaten Probolinggo mencatat sejak awal kemarau sampai pekan kedua September ini telah terjadi 18 insiden kebakaran lahan.
Diantaranya bulan Mei terdapat 1 insiden lahan terbakar. Lalu bulan juli terdapat 4 insiden. Bulan Agustus 7 insiden. Sementara hingga pekan kedua september telah terjadi 6 insiden. Jumlah tersebut diprediksi masih akan bertambah.
Kebakaran lahan saat musim kemarau mudah terjadi juga karena kondisi demikian dapat terjadi karena suhu udara dan cuaca lebih panas.
Meningkatnya suhu berdampak pada mengeringnya lingkungan sekitar membuat wilayah lebih kering.
Begitu juga lahan atau tempat terbuka yang didominasi oleh rumput maupun ilalang dapat dengan mudah kering.
“Lingkungan yang kering dampak kemarau dan angin yang kencang membuat potensi kebakaran lahan dapat terjadi. Sehingga perlu meningkatkan kewaspadaan dan tidak menyalakan api tanpa pengawasan,” bebernya. (ar/fun)
Editor : Abdul Wahid