KREJENGAN, Radar Bromo – Sejumlah petani tembakau di Desa Seboro, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, mengeluhkan harga tembakau yang makin murah. Pada masa panen ketiga, harganya merosot menjadi Rp 55 ribu sampai Rp 57 ribu per kilogram.
Sebelumnya, berada di kisaran Rp 60 ribu hingga Rp 66 ribu per kilogram. Padahal, menurut sejumlah petani, panen ketiga merupakan hasil terbaik dibanding panen pertama maupun kedua. “Seharusnya panen ketiga ini harganya lebih bagus karena kualitasnya lebih baik. Tapi, kenyataannya justru turun,” ujar salah satu petani tembakau asal Desa Seboro, Purwadi, Senin (1/9).
Kondisi ini, kata Purwadi, membuat banyak petani berharap harga tembakau ke depan bisa menembus Rp 70 ribu per kilogram atau lebih. “Tahun ini kualitas tembakau sebenarnya tidak begitu menguntungkan. Daunnya lebih ringan, jadi hasil timbangannya berkurang. Harapan kami harga bisa naik, minimal Rp70 ribu ke atas,” ujarnya.
Ia juga sempat mengaitkan penurunan harga ini dengan situasi nasional yang tengah bergejolak. “Apa mungkin ada kaitannya dengan demo yang terjadi di mana-mana ini ya,” kata Purwadi, bertanya-tanya.
Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Probolinggo Reno Handoyo mengatakan, pihaknya terus memantau fluktuasi harga tembakau. Serta, akan mendorong dinas terkait lebih aktif berkoordinasi dengan gudang tembakau terkait serapan dan harga.
“Seperti yang kita ketahui, Kabupaten Probolinggo estimasi panen tembakau tahun ini mencapai 11 ribu ton. Namun, sejauh ini serapan gudang baru sekitar 6 ribu ton. Masih ada sisa 5 ribu ton yang belum terserap. Jadi, kami akan menekan dinas-dinas agar bisa lebih proaktif ke gudang-gudang,” jelas Reno.
Jawa Pos Radar Bromo telah berusaha mendapatkan keterangan dari Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo Arief Kurniadi. Namun, sampai berita ini dibuat, belum ada respons meski telah dihubungi melalui telepon. (mu/rud)
Editor : Fahreza Nuraga