DESA Patemon, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, istiqamah menggelar karnaval setiap HUT Republik Indonesia. Termasuk HUT ke-80. Kegiatan ini tidak hanya menjadi pesta budaya yang dinanti-nantikan warga. Tetapi, juga mampu menggerakkan sektor perekonomian desa.
Antusiasme masyarakat sangat tinggi dalam mengikuti karnawal tingkat desa ini. Hampir seluruh dusun di Desa Patemon, mengirimkan peserta dengan beragam kreasi, mulai dari seni budaya tradisional hingga atraksi tematik.
“Karnaval ini bukan sekadar hiburan, tetapi ajang untuk memperkuat kebersamaan dan mengangkat budaya desa. Bahkan, UMKM kami ikut bergerak. Pedagang kecil mendapat keuntungan karena ramainya pengunjung,” ujar Kepala Desa Patemon Baginda Purnomo.
Ribuan masyarakat tumpah ruah di sepanjang jalan utama desa untuk menyaksikan karnaval. Banyak peserta memanfaatkan momen ini untuk menampilkan karya lokal yang sarat nilai budaya. Bagi pedagang, karnaval tahunan ini menjadi kesempatan emas karena pembeli meningkat drastis.
“Dengan adanya karnaval, perputaran ekonomi terasa lebih cepat. Warga kami bisa merasakan manfaatnya langsung,” ujarnya.
Selain menjadi sarana budaya dan hiburan, karnaval juga menunjukkan konsistensi Desa Patemon dalam menjalankan program pembangunan. Tahun ini, selain kegiatan kemasyarakatan, desa juga merealisasikan sejumlah pembangunan fisik.
“Kami melaksanakan pengaspalan di Dusun Krajan dan Patemon Utara, pembangunan jalan rabat beton di wilayah Dusun Krajan, serta TPT di Dusun Keloran. Semua ini agar infrastruktur desa semakin baik,” jelasnya.
Program sosial turut berjalan berdampingan. Baginda menyebutkan, tahun ini pihaknya menggelontorkan bantuan pembangunan 3 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Serta, pemberian Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) bagi 12 Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
Baginda mengatakan, pembangunan di Desa Patemon mengutamakan keseimbangan antara kebutuhan ekonomi, sosial, dan budaya.
“Dengan karnaval, masyarakat bisa bersatu. Dengan pembangunan, kesejahteraan bisa meningkat. Inilah wajah Desa Patemon, membangun dengan gotong royong dan semangat kemerdekaan,” ujarnya.
Gelontor Ternak Kambing, Hadirkan Ikon Pete
Dalam momentum HUT ke-80 RI, Desa Patemon menegaskan komitmennya terhadap ketahanan pangan sebagai penopang perekonomian masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan program bantuan ternak dan gerakan menanam pohon pete yang menjadi tema besar karnaval tahun ini.
Kepala Desa Patemon Baginda Purnomo mengatakan, tahun ini pihaknya menyalurkan bantuan 10 ekor kambing kepada warga. Tujuannya, untuk mendukung kemandirian di bidang peternakan.
“Kambing ini bisa menjadi tabungan hidup bagi masyarakat. Harapan kami, dengan beternak, mereka bisa mandiri dan menopang kebutuhan ekonomi keluarga,” ujarnya.
Selain bantuan ternak, Pemerintah Desa Patemon juga memperkenalkan ikon baru berupa pohon pete. Sebanyak 100 bibit pohon ditanam di lahan belakang kantor desa, tepatnya di Dusun Keloran.
“Kami ingin berbeda dengan desa lain. Kalau yang lain sudah ada programnya, kami pilih pete karena nilai ekonomisnya tinggi. Pete bisa dijual, bisa dikonsumsi, dan hasilnya sangat menjanjikan,” jelas Baginda.
Di sisi lain, pembangunan fisik desa juga tetap berjalan. Tahun ini pemerintah desa menggarap pengaspalan jalan di Dusun Krajanatemon Utara, rabat beton di wilayah Dusun Krajan, serta pembangunan TPT di Dusun Keloran.
“Kami tidak hanya fokus pada ketahanan pangan, tetapi juga memperhatikan infrastruktur. Semua harus seimbang agar desa benar-benar maju,” katanya.
Dengan kombinasi antara karnaval budaya, gerakan ketahanan pangan, pembangunan fisik, dan program sosial, Pemerintah Desa Patemon menunjukkan wajah pembangunan yang holistik.
“Kami ingin desa ini maju dengan ciri khasnya sendiri, bukan meniru desa lain. Dengan pete sebagai ikon, kami yakin Desa Patemon punya identitas yang kuat,” ujar Baginda. (mu/rud/*)
Editor : Ronald Fernando