Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Modal Jadi Kendala Koperasi Merah Putih di Desa, Butuh Suntikan dari Banyak Pihak

Agus Faiz Musleh • Kamis, 21 Agustus 2025 | 16:10 WIB
BELUM SEMUA: Sejumlah gerai kopdes merah putih di Desa Krejengan yang beberapa diantaranya masih tutup karena terkendala permodalan.
BELUM SEMUA: Sejumlah gerai kopdes merah putih di Desa Krejengan yang beberapa diantaranya masih tutup karena terkendala permodalan.

KREJENGAN, Radar Bromo–Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di Kabupaten Probolinggo Probolinggo memang sudah terbentuk di beberapa desa.

Hingga kini sejumlah kopdes masih menghadapi kendala utama pada sektor permodalan.

Perkembangan koperasi rata-rata masih terbatas pada beberapa unit usaha.

Kondisi ini salah satunya ada di Desa Krejengan.

Kepala Desa Krejengan, Nurul Huda menjelaskan bahwa Kopdes Merah Putih telah diluncurkan secara serentak bersama koperasi desa lainnya di Indonesia.

Namun, operasional koperasi masih belum berjalan optimal karena minimnya dukungan modal.

“Ya, Koperasi Desa Merah Putih Krejengan ini sudah terbentuk, bahkan kemarin menjadi salah satu Kopdes Mockup di Jawa Timur. Di Probolinggo ada dua desa, yaitu Desa Krejengan dan Desa Randupitu. Kami sudah melaksanakan launching bersama Kopdes Merah Putih se-Indonesia, dan sudah menjalankan beberapa kegiatan walaupun masih terbatas,” kata Nurul Huda, Rabu (20/8).

Saat ini, unit usaha yang sudah berjalan antara lain pergudangan, penyediaan obat murah, dan sembako. Namun, sebagian besar gerai lain masih belum bisa beroperasi.

Nurul Huda menyampaikan apresiasi terhadap dukungan Koperasi Mandiri Kopontren Nurul Jadid dan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) Kabupaten Probolinggo.

“Tapi di sisi lain, kami berharap dukungan lebih besar, termasuk dari BUMN melalui perbankan, agar Kopdes Merah Putih bisa benar-benar bergulir,” ungkapnya.

Hingga kini, belum ada kucuran modal dari pemerintah pusat maupun perbankan. Menurutnya, kendala utama terletak pada syarat jaminan pinjaman yang memberatkan koperasi.

“Ternyata sejauh ini belum ada permodalan dari pemerintah, baik berupa pinjaman dari Himbara )himpunan bank milik negara, red) ataupun Kementerian Koperasi. Beberapa waktu lalu sempat ditawari LPDB (lembaga pengelola dana bergulir, red), tapi tetap terkendala jaminan. Kalau seumpamanya dana desa bisa jadi jaminan, kami siap. Yang penting koperasi bisa berjalan dengan kehati-hatian,” jelas Nurul Huda.

Modal yang saat ini dimiliki koperasi berkisar antara Rp 30 juta hingga Rp50 juta. Sebagian besar hasil dukungan dari Kopontren Mandiri. Dengan modal terbatas itu, kegiatan koperasi masih menyerupai toko konvensional.

Ke depan, pihak desa berharap Kopdes Merah Putih dapat berperan sebagai pemasok utama toko kelontong di Desa Krejengan, sehingga masyarakat tak perlu lagi membeli kebutuhan pokok ke luar desa.

“Kami berharap keberadaan koperasi ini bisa menjadi supplier atau agen, termasuk nanti bisa mengelola LPG 3 kilogram. Kalau itu terwujud, masyarakat bisa lebih mudah mendapatkan kebutuhan dengan harga bersaing,” tutur Nurul Huda.

Ia menegaskan, masyarakat Desa Krejengan menaruh harapan besar pada koperasi desa sebagai bagian dari program pemerintah pusat untuk memperkuat ekonomi desa. “Alhamdulillah, koperasi ini sudah berjalan. Tinggal bagaimana peran koperasi bisa lebih ditingkatkan agar benar-benar memenuhi kebutuhan masyarakat melalui toko-toko kelontong dan unit usaha lain,” pungkasnya. (mu/fun)

Editor : Fahreza Nuraga
#Koperasi Merah Putih #koperasi #Koperasi Desa