Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Harga Tembakau Probolinggo Mulai Naik, Kualitas Panen Turun Drastis

Muhammad Fahmi • Rabu, 20 Agustus 2025 | 03:19 WIB

 

 

JEMUR: Sejumlah petani tembakau di Kecamatan Kraksaan, menjemur tembakau yang sudah dirajang.
JEMUR: Sejumlah petani tembakau di Kecamatan Kraksaan, menjemur tembakau yang sudah dirajang.

KRAKSAAN, Radar Bromo – Senyum mulai merekah di wajah para petani tembakau di Kabupaten Probolinggo. Setelah berbulan-bulan diliputi kekhawatiran akibat harga jual anjlok, kini harga tembakau mulai naik.

Sebelumnya, harga tembakau sempat stagnan di kisaran Rp 35 ribu–Rp 40 ribu per kilogram. Namun, kini harga tembakau mulai merangkak naik ke level Rp 50 ribu–Rp 60 ribu per kilogram di tingkat petani.

Kenaikan ini tentu menjadi angin segar. Terlebih di tengah kondisi serapan gudang yang masih belum jelas.

Imam Wahyudi, salah seorang petani asal Desa Sokaan, Kecamatan Krejengan, mengaku bersyukur atas perubahan harga tersebut. Dia dan para petani lain mengaku lebih tenang.

Memang, mereka tidak menjual tembakau ke gudang. Melainkan menjual tembakau ke tengkulak. Sebab, sampai saat ini baru satu gudang atau perusahaan yang buka. Yaitu, PT Sayap Emas.

Padahal, total ada 17 gudang tembakau di Kabupaten Probolinggo. Itu artinya, 16 gudang yang lain belum buka.

Bahkan, dari 17 gudang yang ada, baru enam gudang yang menyerahkan rencana penyerapan tembakau pada pemerintah. Sedangkan, 11 gudang sisanya belum menyerahkan rencana serapan tembakau sampai saat ini.

“Alhamdulillah, harga mulai bagus. Dibanding sebelumnya yang membuat resah petani, sekarang lebih menenangkan,” ujarnya, Senin (18/8).

Namun, kebahagiaan itu belum sepenuhnya sempurna. Di balik kenaikan harga, para petani justru dilanda kegundahan lain.

Kualitas tembakau mereka saat ini menurun drastis akibat cuaca tidak menentu. Musim hujan yang datang lebih cepat dari perkiraan, terutama pada periode Mei, membuat daun tembakau kehilangan kualitas terbaiknya.

“Tanaman yang ditanam pada bulan Mei, kebanyakan kena hujan, sehingga kualitasnya sangat turun. Kalau dipersentase, penurunannya lebih dari 50 persen,” ungkap Imam.

Ia menjelaskan, kondisi ini berimbas pada hasil panen. Dalam kondisi normal, satu hektare lahan mampu menghasilkan 1-2 ton tembakau kering dengan kualitas baik. Namun, kini hasilnya jauh di bawah standar.

Daun tembakau lebih ringan dan tidak padat. Sehingga volume panen tidak sebanding dengan luas lahan yang digarap. “Sekarang hasil panen di bawah 1 ton untuk tiap hektare,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo Arief Kurniadi membenarkan fenomena tersebut.

Menurutnya, cuaca ekstrem yang kerap berganti antara panas terik dan hujan deras sangat memengaruhi mutu tembakau.

“Saat diguyur hujan, tembakau menjadi ringan. Kalau kata orang Madura, tidak rekak (lengket), sehingga tidak berat. Itulah yang membuat kualitasnya menurun,” jelasnya.

Meski begitu, pihaknya tetap optimistis kenaikan harga bisa menutup sebagian kerugian petani. Arief pun menekankan pentingnya strategi adaptasi ke depan.

Baik dalam pola tanam, maupun teknik perawatan. Sehingga, petani tidak lagi terlalu bergantung pada kondisi cuaca.

Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Probolinggo Reno Handoyo mengaku bersyukur dengan kenaikan harga jual tembakau. Ia menilai, kenaikan harga saat ini patut disyukuri, meski tantangan kualitas masih menghantui.

“Kita bersyukur karena harga sudah mulai membaik. Harapannya, para petani tetap bisa menuai hasil terbaik dari tembakau tahun ini dan pemerintah akan terus mendukung agar kesejahteraan petani terjaga,” ujarnya. (mu/hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#harga anjlok #tembakau #naik #probolinggo