PAITON, Radar Bromo–Refleksi Hari Kemerdekaan RI ke-80 digelar di puncak bukit d iatas PLTU Paiton, Sabtu (16/8) siang.
Lokasi ini dipilih karena menjadi perbatasan dari daerah Kabupaten Probolinggo dan Situbondo.
Tak hanya pengibaran bendera merah putih. Namun juga orasi tentang protes kerusakan hutan yang terjadi akibat adanya proyek startegis nasional (PSN) Tol Probolinggo-Banyuwangi (Probowangi).
Di balik penghormatan kepada sang merah putih, warga yang mengatasnamakan Koalisi Masyarakat Sae Patenang, bersama RPH Kabuaran KPH Perhutani Probolinggo, tersirat pesan perlawanan terhadap perusakan lingkungan yang diduga terjadi akibat aktivitas Tol Probowangi.
Koordinator Koalisi Masyarakat Sae Patenang, Syarful Anam mengatakan, hutan yang dikelola Perhutani kini rusak parah akibat aktivitas penimbunan material proyek yang dilakukan secara sembarangan. Di lokasi inilah bendera merah-putih ditancapkan di atas bukit tersebut.
“Banyak pohon-pohon milik perhutani yang ditimbuni material proyek, itu jelas merusak ekosistem,” katanya.
Menurutnya, proyek jalan tol secara konstan telah menyebabkan ekosistem yang awalnya alami, kini rusak.
Ia menuntut agar pihak kontraktor segera mengambil langkah korektif untuk menghentikan aktivitas demi menghindari kerusakan lebih luas.
Sementara itu, Asisten Perhutani RPH Kabuaran KPH Probolinggo, Mahludin mengatakan, proyek pembangunan jalan tol tersebut memang berdampak pada kawasan hutan yang dikelola Perhutani. Ia menyebut, sekitar 42,7 hektare lahan milik Perhutani masuk dalam area terdampak proyek dan sudah melalui proses perizinan.
Namun, kerusakan terjadi karena pelaksana proyek seringkali melampaui batas-batas yang telah ditentukan.
Bahkan rambu-rambu yang telah dipasang oleh Perhutani sebagai penanda batas kawasan, sering diterobos begitu saja.
“Kami sudah berulang kali berkoordinasi di lapangan. Tapi tetap saja rambu-rambu kami diterobos. Akibatnya, pohon-pohon kami banyak yang rusak, termasuk pohon jati, mahoni, hingga kesambi,” beber Mahludin.
Ia menambahkan, kerusakan tersebut bukan karena pohon yang ditebang. Melainkan tertimbun oleh material bongkaran proyek, seperti tanah, batu, dan puing-puing konstruksi lainnya.
Jumlah pohon yang terdampak pun disebut sudah mencapai puluhan ribu batang, yang sebagian besar sebelumnya masih dalam kondisi sehat.
“Seperti kami berdiri saat ini, di bawah ini ada pohon-pohon yang sudah tertimbun oleh material proyek,” katanya. (mu/fun)
Editor : Abdul Wahid