Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kekeringan Makin Meluas, Selama Tiga Bulan di Musim Kemarau, BPBD Kabupaten Probolinggo Sudah Kirim Ratusan Ribu Liter Air

Achmad Arianto • Minggu, 10 Agustus 2025 | 18:31 WIB

 

DAMPAK KEMARAU: Personel BPBD saat melakukan distribusi air bersih ke rumah-rumah warga
DAMPAK KEMARAU: Personel BPBD saat melakukan distribusi air bersih ke rumah-rumah warga

 

PROBOLINGGO, Radar Bromo- Wilayah kekeringan di Kabupaten Probolinggo mulai meluas ke beberapa kecamatan. Permintaan distrubusi air bersih dari warga pun kini mulai berdatangan.

Dari data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, sejauh ini kekeringan menimpa empat kecamatan yakni Kecamatan Leces, Tegalsiwalan, Banyuanyar dan Tiris.

Jika dihitung kekeringan itu melanda tujuh desa, 11 dusun, dan 782 keluarga atau 2.602 jiwa.

Ketujuh desa itu adalah Desa Tulupari di Kecamatan Tiris; Desa Tegalsono, Desa Klenang Kidul dan Desa Bulujaran Kidul (Kecamatan Tegalsiwalan); Desa Tigasan Wetan dan Malasan Kulon (Kecamatan Leces), Desa Klenang di Kecamatan Banyuanyar.

“Untuk saat ini wilayah kekeringan yang meminta distriubusi air bersih ada sebanyak tujuh desa yang tersebar di empat kecamatan,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Sjarief.

Menurut Oemar berdasarkan keterangan warga penyebab krisis air bersih ini disebabkan oleh dua hal yakni sumur-sumur yang mulai mengering dan distrubusi air dari perumdam yang tersedat.

Kekeringan ini pertama kali dirasakan oleh warga Desa Tulupari, Kecamatan Tiris sejak Mei lalu dan sudah dikirim sebanyak 12 kali sampai saat ini.

Krisis air bersih masih melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Probolinggo. Selama 3 bulan BPBD telah mendistribusikan 114 ribu liter air bersih pada wilayah krisis air bersih.

Kepala Pelaksana BPBD Oemar Sjarief mengatakan distribusi air bersih merupakan bentuk tanggap darurat.

Serta upaya BPBD dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat secara cepat dan tepat.

Distribusi air bersih merupakan langkah awal untuk memastikan warga yang terdampak tetap mendapatkan akses terhadap kebutuhan air bersih.

“Kami akan terus monitor kondisi di lapangan dan menyalurkan air bersih sesuai kebutuhan,” katanya.

CUKUPI KEBUTUHAN: Warga di Kabupaten Probolinggo antre kiriman air bersih dari BPBD.
CUKUPI KEBUTUHAN: Warga di Kabupaten Probolinggo antre kiriman air bersih dari BPBD.

Selama 3 bulan terhitung sejak Juni sampai pekan kedua Agustus, BPBD telah kirimkan 114 ribu liter air ke wilayah terdampak krisis air bersih.

Diantaranya 9 kali di Desa Tulupari, Kecamatan Tiris; 3 kali di Tegalsono, Kecamatan Tegalsiwalan; dan 2 kali Tigasan Wetan, Kecamatan Leces. Serta di melakukan 1 kali pengiriman air bersih di Desa Malasan Kulon, Kecamatan Tegalsiwalan; Bulujaran Kidul, Kecamatan Tegalsiwalan; dan Liprak Kidul, Kecamatan Banyuanyar.

Oemar menuturkan pihaknya tidak hanya bertindak responsif, BPBD juga menekankan pentingnya perbaikan sistem distribusi air secara jangka panjang.

Solusi menyeluruh tidak cukup dengan suplai air bersih darurat, tetapi perlu koordinasi lintas instansi untuk menjamin keberlanjutan akses air bersih masyarakat.

Kondisi ini menjadi pengingat pentingnya penguatan infrastruktur air bersih, terlebih dalam menghadapi musim kemarau yang semakin ekstrem.

“Kami menghimbau masyarakat untuk melapor segera jika mengalami gangguan air bersih agar tindakan cepat bisa segera dilakukan,” pungkasnya. (ran/ar/fun)

Editor : Abdul Wahid
#bpbd #kekeringan #air bersih #kemarau