KRAKSAAN, Radar Bromo- Petani tembakau di Kabupaten Probolinggo sudah banyak yang mulai panen. Namun, kabar baik tak kunjung datang. Mayoritas gudang pengumpul hasil tembakau belum memberikan kepastian soal rencana serapannya.
Akibatnya, harga tembakau di tingkat petani ambruk. Hanya berada di kisaran Rp 35 ribu sampai Rp 40 ribu per kilogram. Padahal, pada musim-musim sebelumnya, harganya bisa tembus Rp 60 ribu per kilogram.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo Arief Kurniadi mengaku masih menunggu kepastian dari sebagian besar gudang yang belum menyampaikan data serapan. Dari total 16 gudang atau perusahaan tembakau yang tercatat, baru lima yang mengonfirmasi rencana pembelian.
“Baru lima gudang yang memberikan data resmi ke kami. Selebihnya masih diam. Ini sangat berdampak terhadap kepercayaan dan psikologis petani,” katanya.
Lima gudang tersebut adalah CV Jaya Abadi (Djarum) dengan serapan 3.000 ton, CV Glagah Surya Abadi (500 ton), CV Lumbung Berkah (500 ton), CV TOP Sumber Sejahtera (500 ton), dan CV Sumber Rejeki (150-200 ton). Jika dijumlahkan, total serapan yang sudah pasti baru 5.200 ton.
Sementara itu, ribuan petani mulai menjemur hasil panen di tengah ancaman harga yang tak stabil. Tanpa kejelasan dari gudang, posisi mereka makin lemah di pasar.
Tak hanya soal serapan yang seret, kualitas tembakau tahun ini juga dinilai kurang menggembirakan. Cuaca yang tak menentu, hujan yang masih turun pada masa yang seharusnya kering, ikut menurunkan mutu daun tembakau. Bobot turun, aroma luntur.
“Kalau mutu sudah lemah, lalu gudang juga belum pasti ambil berapa, ini bisa bikin tembakau petani tidak laku. Harga bisa terus jeblok,” ujar Arief.
Sebagai respons cepat, Dinas Pertanian akan bergerak langsung mendatangi gudang-gudang yang belum menyetor data. Langkah ini dilakukan bersama pihak terkait untuk mendorong kepastian pasar bagi petani.
“Kami tidak bisa menunggu lebih lama. Kami akan temui langsung gudang-gudang tersebut, dorong transparansi serapan, dan pastikan hasil panen petani tidak mubazir,” ujar Arief. (mu/rud)
Editor : Ronald Fernando