BESUK, Radar Bromo- Seorang ibu lanjut usia (lansia) asal Desa Jambangan, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, mendapatkan perlakukan tak nyaman dari putri kandungnya. Diusir dari rumah dan ditelantarkan. Syukur kini telah dirawat di sebuah panti di Malang.
Mirisnya, sang anak memasrahkan penuh kepada petugas pantis sampai ibunya meninggal dunia. Bahkan, ia mengaku gak masalah meski tidak dikabari ketika orang yang telah melahirkannya itu meninggal dunia.
Lansia yang ditelantarkan itu adalah No Taji, 76, warga Dusun Talang, Desa Jambangan. Informasinya, selama ini No Taji sering cekcok dengan anaknya, Misrika, 43. Kondisi ini membuat sejumlah tetangganya prihatin. Karena itu, salah seorang dari mereka memvideokan ketika Misrika menghadik dan mengusir ibunya.
Misrika terlihat tersulut emosi. Sambil menangis menghardik dan mendorong ibu kandungnya sampai terjatuh. Kemudian, mengusir dari rumah hingga menggelandang dan terlantar.
Dalam cuplikan video lainnya, ketika petugas dari Pusat Perawatan Lansia Terlantar meminta izin membawa ibunya, Misrika terlihat begitu pasrah. Ia menyatakan dengan tegas sudah tidak kuat merawat ibunya.
“Pokok enten guleh pon, Pak. (Pokoknya tidak sudah, Pak). Trauma saya. Takut saya,” kata Misrika, dalam rekaman.
Bahkan, ia juga tak bersedia lagi melihat ibunya meski sampai meninggal dan mengaku tidak menyesal. Bahkan, juga mengaku rela ketika ibunya sudah meninggal tak diberi kabar. “Tidak usah dak papa dah, Pak,” katanya.
Adanya kejadian ini dibenarkan oleh Perangkat Desa Jambangan, Edi Susanto. Namun, kata Edi, video ketika Misrika mengusir ibunya itu, bukan kejadian, Jumat (25/7).
“Betul, video viral tersebut warga Desa Jambangan. Tetapi, kejadiannya bukan Jumat (25/7). Tetapi, sudah sekitar sebulan lalu,” ujarnya.
Menurutnya, No Taji memiliki tiga orang anak. Dua laki-laki dan seorang perempuan. Namun, salah seorang putranya merantau ke luar Jawa. Seorang putranya lagi tinggal di Desa Alastengah, Kecamatan Besuk. Sementara, Misrika merupakan anak ketiga dan tinggal di Desa Jambangan.
Selama ini, No Taji tinggal bergantian di rumah anak-anaknya. Namun, karena kondisinya sudah sepuh dan sering dimensia, ia tidak dapat mengontrol emosinya dan anak-anaknya turut terbawa emosi. Karena itu, sering terjadi cekcok antara No Taji dengan anak-anaknya.
“Sebelumnya, No Taji lama tinggal di Desa Alastengah. Tetapi, karena sudah sepuh jadi sering cekcok lalu pulang ke rumah anaknya yang di Desa Jambangan. Cekcok itu juga sering terjadi,” jelasnya.
Baca Juga: 10 Hari, 8.422 Pelanggar Terjaring Operasi di Wilayah Polres Probolinggo dan Polres Probolinggo Kota
Camat Besuk Abdul Bari menjelaskan, Pemerintah Desa Jambangan sudah berusa memediasi masalah ini dengan anak-anak No Taji. Dengan harapan ada jalan keluar terbaik. Sayang menemui jalan buntu.
Puncaknya, tetangga Misrika yang merasa kasihan kepada korban yang kerap mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan, merekam aksi kekerasan yang dilakukan oleh Misrika. Lalu, melaporkannya ke Pusat Perawatan Lansia Terlantar. Laporan ini direspon cepat, sehingga segera dievakuasi, Jumat (25/7).
“Kami tidak melakukan pembiaran. Upaya-upaya sudah kami lakukan. Mediasi sudah dilakukan, tetapi menemukan jalan buntu. Lalu, kami berkoordinasikan dengan Dinas Sosial,” jelas Abdul Bari.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo Rachmad Hidayanto mengatakan, sebelum video viral, Pegawai Sosial dan Pendamping TKSK Dinas Sosial Kabupaten Probolinggo, telah mendapatkan laporan. Kemudian, menemui Misrika. Melakukan upaya kekeluargaan dan mengedukasinya sebagai anak kandung.
Dari hasil mediasi, Misrika kekeh tidak mau merawat orang tuanya. Bahkan, meminta korban diserahkan ke Panti Lansia. Mendengar jawaban itu, petugas berencana menitipkan korban ke UPT PSTW Jember. Namun, karena korban memiliki tiga anak, Dinas Sosial masih menunggu persetujuan dari dua anaknya lainnya.
“Sebenarnya, Dinas Sosial melalui TKSK dan Pegiat Sosial Kemensos Wilker Kabupaten Probolinggo, sudah hadir. Berproses melakukan pendampingan sesuai mekanisme. Misrika ini kekeh menitipkan ke panti, karena sudah tidak tahan sering cekcok dan sakit hati kepada saudara kandung lainnya,” katanya.
Jawa Pos Radar Bromo, telah berusaha untuk mendapatkan keterangan dari anak-anak No Taji. Namun, sampai berita ini dibuat tadi malam, belum berhasil. Sabtu (26/7), Misrika tidak ada di rumahnya di Desa Jambangan. Informasinya, sudah sekitar sepekan ia berada di rumah anaknya di Kecamatan Gending. (ar/rud)
Editor : Ronald Fernando