KRAKSAAN, Radar Bromo–Masjid dan musala berpotensi difungsikan sebagai ruang literasi yang aktif di masyarakat.
Perlu penguatan peran perpustakaan di rumah-rumah ibadah sebagai bagian dari upaya penyebaran pengetahuan keislaman dan pembinaan karakter umat.
Ini diungkapkan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kabupaten Probolinggo, Abd Ghafur.
Kata dia, perpustakaan masjid dan musala seharusnya tidak berhenti sebagai tempat menyimpan buku keagamaan. Tetapi dikembangkan menjadi ruang belajar yang aktif dan terbuka untuk publik.
“Perpustakaan sebaiknya dimanfaatkan untuk memperluas wawasan keislaman dan mendukung proses pembentukan karakter masyarakat. Ini bukan hanya urusan fasilitas, tapi soal fungsi sosial dan dakwah,” ujarnya.
Ia juga menilai, potensi perpustakaan masjid bisa dimaksimalkan untuk menarik minat generasi muda agar terlibat lebih aktif dalam kegiatan keislaman di lingkungan mereka.
“Jika isinya relevan dan koleksinya berkembang, perpustakaan bisa menjadi daya tarik tambahan. Anak-anak muda datang bukan hanya untuk salat, tapi juga membaca, berdiskusi, atau mengikuti kajian yang berbasis literasi,” tambahnya.
Terkait pengembangan fasilitas ini, Dispersip membuka akses bantuan buku yang bisa diajukan langsung oleh pengurus masjid dan musala sesuai dengan kebutuhan lokal masing-masing.
“Kami terbuka terhadap pengajuan dari takmir. Tapi tentu saja, pengembangannya harus sejalan dengan kebutuhan jamaah, bukan sekadar formalitas,” kata Ghafur. (mu/fun)
Editor : Abdul Wahid