KREJENGAN, Radar Bromo – Proyek perbaikan jembatan di Desa Seboro, Kecamatan Krejengan memang telah rampung dikerjakan.
Namun bukannya lega, masyarakat justru mengeluhkan hasil pembangunan tersebut.
Pasalnya, jembatan yang baru selesai dikerjakan itu dinilai terlalu sempit dan membahayakan pengguna jalan, khususnya pengendara roda empat.
Kepala Desa Seboro, Mosta’in, menyebutkan bahwa ukuran jembatan yang baru dibangun di sisi barat tidak sebanding dengan jembatan lama di sisi timur.
Alhasil, ketika kendaraan roda empat dan pejalan kaki melintas secara bersamaan, kerap terjadi insiden kecil hingga benturan.
“Kalau ada mobil yang melintas berbarengan dengan orang, maka tidak bisa. Space-nya tidak cukup,” ujarnya, Rabu (14/5).
Lebar jembatan baru yang dibangun hanya sekitar 2,5 meter. Bahkan pagar pembatasnya, kata Mosta’in, terlalu masuk ke dalam badan jalan.
“Pagarnya kurang keluar, sekitar 15 sentimeteran lah. Kalau jembatan sisi timur sudah nyaman, tidak terlalu sempit,” tambahnya.
Kondisi sempit ini berdampak langsung pada kenyamanan pengguna jalan. Dia kerap mendapat laporan, sejumlah kendaraan sempat menyerempet pagar jembatan hingga mengalami kerusakan pada bodi mobil.
“Bisa dilihat, pagarnya sudah beset-beset. Kemarin ada beberapa mobil yang nyerempet akibat terlalu sempit,” ungkap Mosta’in.
Warga berharap Pemkab Probolinggo segera mengambil langkah perbaikan sebelum jembatan tersebut diserahterimakan.
“Takutnya kalau ada orang luar yang tidak tahu kondisi jalan, malah bisa menyebabkan kecelakaan. Kami minta agar segera diperlebar,” tegasnya.
Jawa Pos Radar Bromo mencoba menghubungi Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Kabupaten Probolinggo, Endang Muji, untuk dimintai keterangan. Namun hingga berita ini ditulis, yang bersangkutan belum memberikan tanggapan atas panggilan maupun pesan yang dilayangkan. (mu/fun)
Editor : Abdul Wahid