KRAKSAAN, Radar Bromo –Banjir yang menerjang sembilan desa di tiga kecamatan di Kabupaten Probolinggo, tidak hanya merendam permukiman warga. Tetapi, juga merusak sektor pertanian.
Sejumlah lahan pertanian di Sembilan desa terendam air, sehingga terancam gagal panen.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo Arief Kurniadi mengungkapkan, beberapa desa di Kecamatan Krejengan melaporkan bahwa lahan pertanian warga sempat terendam. Namun, air cepat surut sehingga tidak berdampak signifikan.
“Untuk pertanian yang terdampak, ada laporan dari beberapa desa di Kecamatan Krejengan. Namun, airnya cepat surut. Jadi tidak ada kerusakan berarti,” ujar Arief.
Meski begitu, di Desa Opo-Opo, Kecamatan Krejengan, sekitar 0,2 hektare sawah rusak setelah tanaman padi roboh. Belum diketahui apakah padi tersebut masih bisa dipanen atau tidak.
“Kami masih menunggu perkembangan lebih lanjut. Apakah padi yang roboh itu bisa lanjut panen atau tidak,” tambahnya.
Lalu, di Desa Brani Wetan, Kecamatan Maron, dampak banjir lebih terasa. Sekitar 2,7 hektare sawah milik beberapa petani rusak karena tanaman padi yang rata-rata sudah berisi roboh terkena banjir.
“Di Brani Wetan ini kondisi padi sudah berisi karena jadwal panennya memang akhir Maret atau awal April,” jelas Arief.
Sayangnya, menurut Arief, tahun ini tidak ada program asuransi pertanian untuk tanaman padi.
Sebab, belum ada alokasi anggaran dari pemerintah pusat. Biasanya, asuransi tani ini didanai APBN dan dialokasikan melalui pemerintah provinsi.
Dengan kondisi ini, para petani terdampak banjir harus menghadapi risiko gagal panen tanpa adanya perlindungan asuransi.
Sementara pemerintah daerah terus memantau untuk memastikan langkah-langkah mitigasi yang diperlukan guna membantu petani yang terdampak. (mu/hn)
Editor : Muhammad Fahmi