Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Musala Raudlatul Jannah Desa Jabung Sisir, Berawal dari Sumur Kiai Mino, Kini Dilengkapi TPQ

Achmad Arianto • Kamis, 6 Maret 2025 | 17:10 WIB
BERSEJARAH: Musala Raudlatul Jannah Desa Jabung Sisir, Kecamatan Paiton, yang terus eksis menjadi media syiar Islam.
BERSEJARAH: Musala Raudlatul Jannah Desa Jabung Sisir, Kecamatan Paiton, yang terus eksis menjadi media syiar Islam.

MUSALA Raudlatul Jannah di Dusun Bandaran, Desa Jabung Sisir, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, tergolong tua. Keberadaannya tak lepas dari keberadaan sumur peninggalan kiai kharismatik, K.H. Hasyim Mino.

Musala Raudlatul Jannah telah berumur. Pembangunannya dimulai dengan adanya sumur peninggalan Pendiri Pondok Pesantren Nurul Qadim Desa Kalikajar Kulon, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, K.H. Hasyim Mino.

Sumur yang dikenal sebagai sumur Bedulen ini dipercaya dibangun pada 1952. Saat itu, wilayah Desa Jabung Sisir atau Dusun Bandara, kesulitan air bersih. Bahkan, untuk kebutuhan minum saja masyarakat sekitar mengalami kesulitan.

Kondisi ini terjadi karena dusun ini memang berdekatan dengan pantai, sehingga air sumur hasil galian warga rasanya asin. Tidak layak konsumsi. Demi memenuhi kebutuhan air bersih, masyarakat mengambil air dari Desa Jabung Candi.

Bertahun-tahun hal itu dilakukan masyarakat setempat. Mendapati itu, Kiai Mino merasa iba. Santri K.H. Moh. Hasan Genggong itu pun berinisiatif membuat sumur. Dibantu warga, sumur tergali. Syukur, air yang keluar cukup deras. Rasanya tawar dan menyegarkan. Tidak seperti sumur-semur yang sebelumnya digali warga.

Sumur dengan kualitas air yang baik ini kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga sekitar. Bahkan, sampai saat ini masih lestari dan tetap difungsikan.

“Pendirian musala memang tak lepas dari keberadaan sumur Kiai Mino. Adanya sumur dari hanya sekadar untuk memenuhi kebutuhan air bersih, juga digunakan untuk kebutuhan beribadah,” ujar Kepala Dusun Bandaran, Desa Jabung Sisir, Rifai.

Musala ini dibangun secara bertahap. Digarap sejak sekitar tahun 1960-an. Awalnya, berada persis di sisi barat musala saat ini. Musala pertama berupa bangunan semipermanen. Menggunakan rangka kayu berdinding gedek.

Sesuai dengan niat awal, musala dibangun untuk tempat beribadah salat 5 waktu. Serta, kegiatan-kegiatan keagamaan warga sekitar. Juga digunakan sebagai tempat belajar membaca Alquran bagi anak-anak sekitar.

“Waktu saya masih kecil, musala itu sudah ada. Dulu bangunannya masih berupa kayu dan bambu. Warga kalau mau salat ambil wudu dari sumur peninggalan Kiai Mino,” ujar pria kelahiran tahun 1970-an ini.

Seiring berjalannya waktu, musala semipermanen itu lapuk. Warga pun bergotong royong meperbaikinya. Setelah beberapa kali diperbaiki, karena konstruksi hanya sederhana, akhirnya musala semipermanen itu reot. Sekitar tahun 2000-an, dibongkar dan dibangun kembali di sisi timur musalah pertama.

Baca Juga: Janda Baru di Kraksaan Bermunculan, Februari Saja Tembus 196 Orang

Musala dibangun dengan panjang sekitar 10 meter dan lebar 5 meter. Berkonstruksi bata merah dilapisi semen layaknya bangunan modern. Kini, bangunannya lebih kuat dibandingkan kondisi awal.

Musala ini juga terus mengalami beberapa renovasi. Dari lantai yang hanya berupa ubin, kini diganti keramik. Begitu juga sisi bangunan yang lain dilakukan pemeliharaan agar tetap terjaga, sehingga tetap nyaman difungsikan.

Musala ini memiliki fungsi utama seperti sebelumnya. Menjadi tempat berjemaah salat 5 waktu. Ketika Ramadan, juga digunakan sebagai tempat salat tarawih dan tadarus Alquran.

Bahkan, saat ini, di sisi utara musala terdapat Taman Pendidikan Alquran (TPQ). Santrinya merupakan anak-anak sekitar musala.

Musala Raudlatul Jannah dan sumur peninggalan Kiai Mino, ini menjadi salah satu bukti sejarah berkembangnya syiar agama Islam di Dusun Bandaran, Desa Jabung Sisir.

“Musala masih berfungsi dengan baik. Bahkan, sudah ada TPQ-nya. Banyak santri yang belajar mengaji di TPQ. Mudah-mudahan bangunan dan sumur bisa tetap terjaga, sehingga bisa terus dimanfaatkan oleh lintas generasi,” ujar Rifai. (achmad arianto/rud)

Editor : Ronald Fernando
#musala #ramadan #TPQ #surau