GADING, Radar Bromo-Banjir di Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo juga mengakibatkan dua jembatan di Desa Betektaman putus.
Jembatan yang putus itu ada di Dusun Tomangan dan Dusun Klompangan. Keduanya menjadi jalur utama bagi masyarakat untuk beraktivitas keluar dusun.
Jembatan di Dusun Tomangan berada di RT 9/RW 3 merupakan bangunan semi permanen. Jembatan ini dibangun pada 2019 dengan panjang 50 meter dengan lebar 1 meter.
Kamis (6/1) malam selepas Isya, jembatan ini putus akibat bronjong di bagian tengahnya terbawa banjir. Sehingga, terlepas.
Jembatan ini merupakan satu-satunya akses bagi warga Dusun Sawahkembang, Desa Plaosan, Kecamatan Krucil untuk menyekolahkan anak-anak mereka di Dusun Tomangan.
Meski demikian, aktivitas ekonomi masih dapat berjalan melalui jalur alternatif menuju Desa Duren, Kecamatan Gading.
“Hampir seluruh anak di blok (dusun) Sawahkembang sekolah di sini. Di madrasah yang berada tepat di ujung jembatan ini. Ada MI, MTs, dan MA. Ada sekitar 50 siswa yang terdampak akibat putusnya jembatan,” ujar Minu, 45, Kasun Tomangan.
Karena itu menurut Minu, pihaknya segera membangun jembatan darurat secara swadaya. Sehingga, anak-anak bisa kembali bersekolah.
Namun, karena kondisi jembatan yang ala kadarnya, kekhawatiran orang tua masih tinggi. Banyak yang mengantar anak-anak mereka hingga ke seberang sungai.
“Tidak ada anak yang tidak diantar. Kami semua was-was, takut tiba-tiba kenapa-kenapa,” ungkap seorang warga.
Menurut Minu, banjir yang menyebabkan jembatan putus terjadi akibat hujan deras yang turun sejak pukul 18.30. Derasnya arus menghantam bronjong tengah jembatan hingga patah.
“Jembatannya memang tidak hanyut sepenuhnya, tetapi patah dan tidak bisa digunakan. Kami juga menyiagakan pemuda di sekitar jembatan untuk berjaga jika ada banjir susulan,” tambahnya.
Sebab hingga kemarin (7/2), arus sungai masih deras. Membuat warga tetap waspada saat melintasi jembatan darurat. Asiana, salah satu warga yang baru saja menyeberang, mengaku was-was saat melintas di jembatan bambu tersebut.
“Baru saja saya pulang besanan, melintasi jembatan ini. Was-was sekali karena bambunya licin. Kalau sampai jatuh, bisa tidak tertolong karena arus air sangat deras. Bisa langsung hanyut ke hilir,” katanya. (mu/hn)
Editor : Muhammad Fahmi