KRAKSAAN, Radar Bromo - Penyebaran penyakit yang disebabkan cacing mikrofilaria di Kabupaten Probolinggo, terus diwaspadai.
Bahkan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo, berusaha melakukan deteksi dini filariasis.
Deteksi dini dilakukan dengan mengambil sampel darah 40 orang di setiap lokasi.
Kegiatan ini dilakukan pada malam hari mulai pukul 11.00 hingga 03.00 dini hari.
Alasannya, cacing mikrofilaria baru muncul di peredaran darah pada jam-jam tersebut.
Terbaru ada tiga lokasi yang menjadi sasaran pengambilan sampel. Senin (14/10) lalu, dilakukan di Desa Asembakor, Kecamatan Kraksaan.
Kemudian, di Desa Andungbiru, Kecamatan Tiris dan Desa Purut Kecamatan, Lumbang, Kamis-Jumat (17-18/10).
“Di luar waktu itu, cacing biasanya masuk ke organ-organ tubuh, seperti hati dan ginjal, sehingga tidak dapat terdeteksi,” ujar Kepala Dinkes Kabupaten Probolinggo Hariawan Dwi Tamtomo melalui Pengelola Program Zoonosis dan Kecacingan Kabupaten Probolinggo, Sulistiani Trisnoharini.
Menurutnya, pengambilan sampel 40 orang per lokasi dilakukan berdasarkan radius penyebaran nyamuk. Sebab, dapat menjangkau hingga 100 meter dari lokasi penderita.
“Kami mengambil sampel 40 orang di sekitar rumah penderita untuk mencegah penularan lebih lanjut. Pengambilan sampel dilakukan dengan mempertimbangkan, bahwa cacing mikrofilaria dapat menular melalui nyamuk sebagai vektor,” jelasnya.
Perempuan yang akrab disapa Yeni ini menjelaskan, filariasis merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan parasite cacing filaria.
Penyakit ini ditularkan oleh nyamuk. Filariasis tidak mematikan, tetapi menyebabkan cacat, sehingga seringkali terabaikan.
“Kami terus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan kesehatan. Kami berharap deteksi dini ini dapat mencegah kasus baru dan meningkatkan kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Kegiatan deteksi dini ini melibatkan berbagai pihak. Termasuk pemerintah kecamatan dan tenaga kesehatan.
Antusiasme masyarakat terlihat jelas, dengan banyak yang hadir tanpa keluhan.
“Filariasis atau yang sering disebut dengan kaki gajah dapat menyebabkan pembesaran anggota tubuh yang signifikan. Akibatnya, dapat mengganggu aktivitas penderita," ujarnya.
"Kami berkomitmen untuk terus memantau dan mencegah penularan lebih lanjut,” lanjutnya. (mu/rud)
Editor : Ronald Fernando