KREJENGAN, Radar Bromo - Fakta lain terungkap setelah Saifullah, 28, ditemukan meninggal di sebuah pekarangan di Desa Selogudik Wetan, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, Minggu (3/3).
Korban diduga merupakan korban ledakan gas elpiji di sebuah bangunan di RT 4/RW 3, Desa Patemon, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probollinggo.
Ini sesuai dengan keterangan warga di sekitar lokasi bangunan yang rusak akibat ledakan elpiji itu. Dia adalah Abdus Salam, pemilik warung bakso dekat bangunan yang rusak.
Menurutnya, ledakan itu terjadi Sabtu (2/3) sekitar pukul 11.30. Suara ledakan bahkan sangat nyaring. Seperti suara mercon berukuran sangat besar.
“Ada suara ledakan siang itu. Nyaring sekali suaranya. Akhirnya saya keluar dari warung. Dan ternyata benar ada yang meledak,” katanya.
Ledakan itu, menurutnya, berasal dari sebuah bangunan. Lokasinya sekitar 15 meter dari warung bakso miliknya.
“Saat saya keluar, terlibat asap putih membumbung tinggi dari bangunan itu. Tidak kelihatan apinya. Hanya ada asap banyak sekali,” lanjutnya.
Dia bersama warga sekitar, termasuk para pembeli di warungnya, langsung mendekati bangunan itu.
Saat itu, kondisi dinding samping bangunan berlubang dan roboh. Atapnya juga rusak.
Tak lama kemudian, Salam melihat sebuah mobil sedan hitam keluar dari gebang bangunan itu dengan kecepatan tinggi.
Disusul oleh seseorang yang mengendarai motor Honda Revo merah-hitam yang diduga adalah Saifullah.
“Awalnya keluar sedan hitam dan berkendara cepat ke arah jembatan di selatan, kemudian ke barat. Lalu keluar orang naik motor Revo. Sepertinya orang yang sama dengan yang ditemukan meninggal itu,” lanjutnya.
Salam sendiri tak tahu pasti bangunan apa yang meledak itu. Sebab, aktivitas di bangunan itu tertutup. Tidak banyak orang luar yang tahu.
Hanya beberapa bulan lalu, menurutnya, banyak lalu lalang kendaraan membawa tabung gas elpiji. Kendaraan itu keluar masuk ke tempat itu.
“Setahu saya dulu bangunan itu memang tempat elpiji. Lalu tidak beroperasi selama 3 bulan. Kemudian informasinya mau dijadikan tempat biogas. Lalu tiba-tiba ada aktivitas gas elpiji lagi di sana. Mungkin beroperasi lagi,” ujarnya.
Ia menyebutkan, aktivitas pengangkutan elpiji di lokasi itu tidak seperti pada umumnya.
Biasanya, ada truk pengangkut elpiji dari Pertamina seperti di agen elpiji yang lain. Namun, di lokasi itu tidak ada sama sekali.
“Yang lalu lalang bukan truk Pertamina seperti di agen elpiji. Biasanya yang keluar masuk itu mobil bak terbuka yang sudah dimodivikasi. Diberi atap seperti mobil boks,” lanjutnya.
Wartawan Jawapos.radarbromo.com pun mendatangi bangunan yang dimaksud Salam. Di sana, tak terlihat satu pun pecahan, maupun sisa gas elpiji.
Tetapi, bau gas elpiji masih sangat kuat. Di bangunan itu sendiri terdapat tempat seperti peternakan sapi. Namun, belum jadi.
Warga lainnya, Mustofa menyebutkan, di hari kejadian, warga sempat mendapati seorang lelaki berendam ke sungai beberapa kali. Namun, dia tidak tahu lokasinya.
“Ada warga yang bilang, ada lelaki beberapa kali nyebur ke sungai dengan kondisi tubuh melepuh. Sepertinya lelaki yang ditemukan meninggal itu. Tapi, saya tidak tahu di sungai mana,” katanya.
Tidak hanya itu. Seorang pemilik warung di sekitar jenazah korban ditemukan, menurut Mustofa, korban sempat membeli odol.
“Pemilik warung di sekitar kejadian bilang begitu. Korban katanya beli odol. Mungkin dioleskan ke tubuhnya,” ujarnya.
Beberapa warga mengaku miris dengan kejadian tersebut. Apalagi mengetahui fakta yang mungkin terjadi pada korban.
Bila benar Saifullah korban ledakan yang terjadi Sabtu (2/3), itu berarti korban semalaman kehujanan. Sebab, pada Sabtu malam wilayah Pajarakan diguyur hujan cukup lama.
“Artinya, semalaman diguyur hujan. Dengan keadaan melepuh dan kedinginan, akhirnya meninggal,” kata warga lainnya.
Sementara itu, Polres Probolinggo memastikan tidak ditemukan indikasi pembunuhan pada korban Saifullah.
Hal itu diketahui setelah pemeriksaan sementara yang dilakukan pada saksi-saksi di sekitar TKP.
“Perkara ini mengarah pada kekerasan atau pencurian disertai kekerasan atau begal. Ada atau tidaknya tindak pidana lain, masih kami dalami. Termasuk apakah yang bersangkutan merupakan korban dari tindak pidana selain dari curas,” terang Kasatreskrim Polres Probolinggo Iptu Putra Adi Fajar Winarsa.
Menurutnya, di tubuh korban tidak ditemukan adanya kekerasan atau luka akibat benda tumpul maupun benda tajam.
Selain itu, tidak ada barang berharga dari korban yang hilang. Semuanya masih lengkap.
“Baik itu dompet, tas, dan sepeda motor korban, masih ada di lokasi korban ditemukan meninggal dunia. Namun, untuk lebih pasti, kami lakukan visum et repertum di RSUD Waluyo Jati. Saat ini kami menunggu hasil untuk mengetahui penyebab kematian korban,” ujarnya. (mu/hn)
Editor : Ronald Fernando