PAJARAKAN, Radar Bromo – Tak pulang semalaman, Saifullah, 28, tiba-tiba ditemukan tak bernyawa Minggu (3/3) pagi.
Dia ditemukan di sebuah pekarangan di Desa Selogudik Wetan, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo.
Korban ditemukan di samping motornya oleh seorang warga sekitar yang hendak ke sawah, sekitar pukul 07.00. Namun, kondisinya sudah meninggal.
Kades Selogudik Wetan Budi Prayoga menyebut, lokasi korban ditemukan cukup jauh dari permukiman warga. Dekat dengan makam, di sebuah pekarangan.
“Dia ditemukan oleh warga yang hendak ke sawah. Warga ini lantas memberi kabar kepada kami (pemdes). Kemudian kami laporan ke kepolisian,” katanya.
Saat ditemukan, korban duduk bersila dengan posisi dahi bertumpu pada sepeda motor bagian samping. Motor itu sendiri yaitu Honda Revo N 2636 QU merah-hitam terparkir di lokasi.
Korban tidak mengenakan baju alias bertelanjang dada. Hanya bercelana pendek warna cokelat. Tubuhnya melepuh seperti luka bakar. Mulai dari kepala sampai kaki.
Ditemukannya korban dalam kondisi meninggal membuat warga sekitar langsung gempar. Mereka berdatangan ke lokasi kejadian.
Petugas Polsek Pajarakan yang tiba di lokasi beberapa saat kemudian, lantas mengevakuasi jenazah korban ke RSUD Waluyo Jati, Kraksaan.
Aliwafa, 32, kakak korban mengatakan, korban keluar rumah sejak Sabtu (2/3), pukul 07.00. Sejak saat itu, korban tak pulang.
Sampai akhirnya ditemukan meninggal. Korban sendiri tinggal serumah dengan kakaknya di RT 3/RW 4, Dusun Kapasan, Desa Pajarakan Kulon, Kecamatan Pajarakan.
“Seperti biasa, dia berangkat kerja Sabtu pagi. Setelah itu, tidak pulang sampai malam. Biasanya selalu pulang, walaupun tidak menentu waktunya. Kadang sore, kadang malam,” ujarnya.
Keluarga sempat mencari korban karena sampai malam tak kunjung pulang. Aliwafa juga menelepon nomor HP adiknya itu. Namun, nomornya tak aktif.
“Sempat kami cari dia karena tidak pulang. Nomor HP-nya tidak aktif saat ditelepon,” katanya.
Lalu Minggu (3/3) pagi, tetangganya memberitahu bahwa adiknya ditemukan di Selogudik Wetan.
Mendapat kabar itu, Aliwafa mencoba menelepon lagi nomor HP adiknya dan berhasil.
“Saya telepon lagi nomornya, ternyata diangkat teman kerjanya. Saya lantas nanya di mana adik saya. Dia menjawab, mungkin ada di rumah tukang pijat yang biasa menangani orang-orang yang kena kebakaran,” ujarnya.
Keluarga, menurut Aliwafa, menilai korban meninggal tidak wajar. Mulai dari luka bakar yang dialami korban, sampai HP korban yang dipegang temannya. Di sisi lain, jasad korban ditemukan sendirian.
“Tidak wajar karena ditemukan di pekarangan dengan luka bakar. Kemudian, HP-nya dipegang temannya,” kata Mayisah, 37, sepupu korban.
Keluarga menduga, korban mengalami kecelakaan kerja. Korban sendiri bekerja di tempat pengiriman gas elpiji di Kota Probolinggo.
“Dia (korban) orangnya tidak terbuka. Begitupun dengan pekerjaannya. Kami tahunya, setahun terakhir dia bekerja di elpiji di daerah kota. Tapi, tepatnya di mana, kami tidak tahu,” lanjut Isah, sapannya.
Dia menduga, sepupunya itu mengalami kecelakaan kerja. Sebab, dia tidak pulang sejak berangkat kerja.
Korban sendiri, menurut Isah, saat ini sudah bertunangan. Bahkan, berencana menikah. Karena itu, dia berkerja untuk mengumpulkan biaya pernikahan.
“Tunangan baru lima bulan. Dia lantas bekerja untuk biaya menikah. Belum tahu kapan nikahnya,” katanya.
Kanit Reskrim Polsek Pajarakan Aipda Andik menyebutkan, pihaknya telah mendatangi lokasi tempat korban ditemukan. Juga mengevakuasi jenazah korban ke RSUD Waluyo Jati, Kraksaan.
“Kami temukan di dekat makan, 100 meter dari jalan raya. Hal-hal lebih lanjut, ditangani Satreskrim Polres Probolinggo,” ujarnya. (mu/hn)
Editor : Ronald Fernando