Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sebulan di Kab Probolinggo, Temukan 174 Kasus DBD, 3 Pasien Meninggal, Terbanyak Wilayah Ini

Agus Faiz Musleh • Rabu, 31 Januari 2024 | 14:50 WIB
Ilustrasi DBD
Ilustrasi DBD

KRAKSAAN, Radar Bromo- Penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Probolinggo patut diwaspadai. Selama Januari 2024, telah ditemukan 174 kasus. Jumlah ini sama seperti temuan selama enam bulan pada 2023.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakitnya Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo Dewi Vironica mengatakan, sejumlah kasus itu tersebar di sejumlah wilayah. Paling banyak di wilayah Puskesmas Besuk, ada 34 kasus.

Kemudian, di wilayah Puskesmas Bago, 27 kasus; Puskesmas Jabungsisir, Puskesmas Paiton, 18 kasus; Puskesmas Kraksaan, 17 kasus; dan Puskesmas Kotaanyar, 12 kasus.

Di sejumlah wilayah puskesmas lain juga ada. Seperti di Puskesmas Pakuniran, Maron, Tiris, Krejengan, Pajarakan, Tegalsiwalan, Banyuanyar, Gending, Leces, dan Sumberasih.

 

 

“Namun, kasusnya tidak banyak,” katanya.

Dari sejumlah kasus itu, kata Dewi, 90 persen pasien merupakan anak-anak. Dari ratusan pasien itu, tiga orang pasien meninggal dunia.

“Meningkatnya kasus (DBD) karena saat ini masih musim hujan. Terlebih kesadaran masyarakat tentang pemberantasan sarang nyamuk, menguras, menutup, dan memanfaatkan kembali limbah barang bekas yang bernilai ekonomis masih kurang,” jelasnya.

Sejatinya, antisipasi lonjakan kasus DBD, telah dilakukan. Namun, menurut Dewi, kesadaran dan perilaku masyarakat masih kurang.

“Sejak akhir tahun lalu, kami melalui Instruksi Bupati tentang gema jentik ini sudah bergerak. Namun, belakangan kembali longgar. Utamanya terhadap masyarakatnya sendiri,” katanya.

Ketika dilakukan pengecekan, masih banyak masyarakat yang menyimpan barang bekas. Seperti ban bekas yang dapat menimbulkan jentik.

 

 

“Hal ini meningkatkan risiko DBD,” ujarnya.

Upaya memberantas nyamuk dewasa melalui pengasapan alias fogging juga dilakukan. Namun, hasilnya tidak banyak berpengaruh terhadap penuruan risiko DBD.

“Yang terpenting perilaku kita dalam kebersihan. Pemberantasan sarang nyamuk ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Mari masyarakat juga ikut menggalakkan gema jentik dan perilaku hidup bersih dan sehat. Guna mencegah potensi DBD,” ajaknya. (mu/rud)

Editor : Ronald Fernando
#dbd #kesehatan #penyakit #dinkes