PAJARAKAN, Radar Bromo – Setelah diperbaiki, jembatan Pajarakan kini masih dipantau kondisi fisiknya. Rupanya perlu ada penguatan struktur bangunan jembatan yang sudah tua agar tetap kokoh.
PPK wilayah 1.1 BBPJN Provinsi Jawa timur Endi Aktoni mengatakan, saat melakukan perbaikan pihaknya juga mengecek seluruh konstruksi jembatan di jalur pantura tersebut. Bukan hanya bagian permukaan jembatan yang menjadi jalur utama perlintasan kendaraan. Tetap juga konstruksi lainnya yang menyokong jembatan.
Hasilnya memang perlu ada penguatan agar tetap kokoh sehingga aman untuk dilintasi kendaraan. "Kami cek perlu ada penguatan. Rencananya penguatan akan dilakukan dengan menambahkan baja dibagian bawah jembatan. Serta mengelas ulang sambungan kerangka," katanya.
Jembatan Pajarakan dibangun pada tahun 1991 merupakan jalan nasional yang menghubungkan antara Jawa dan Bali ini memiliki bentang panjang jembatan 45,70 meter. Tidak heran jika volume kendaraan yang melintas cukup padat. Dengan kondisi demikian keamanan dan kenyamanan pengendara perlu diperhatikan secara seksama.
Endi bilang, idealnya jembatan Pajarakan bisa dilintasi oleh kendaraan dengan bobot 30 ton dengan bobot pergandar maksimal 10 ton. Bobot kendaraan yang melintas jembatan mempengaruhi konstruksi. Sebab jika melebihi batas yang telah ditentukan, penggunaan jembatan semakin singkat serta akan sering melakukan pemeliharaan.
Pihak PPK juga telah melakukan evaluasi konstruksi dan hasil pengerjaan perbaikan jembatan. Rupanya jembatan layak untuk dilintasi kendaraan seperti pada umumnya. Kendaraan roda dua, hingga roda empat yang bermuatan boleh melintas seperti sedia kala.
"Usia jembatan sudah tua. Realisasinya nanti menunggu pemerintah pusat. Namun sudah kami usulkan. Kami upayakan sebelum tutup tahun bisa terealisasi," pungkasnya. (ar/fun)
Editor : Ronald Fernando