Humas Damkar Kabupaten Probolinggo Sholehudin mengatakan, meningkatnya kewaspadaan terhadap potensi kebakaran karena intensitas hujan mulai berkurang. Kondisi lingkungan menjadi lebih kering. Hal ini menjadi salah satu penyebab mudahnya terjadi kebakaran.
Titik api yang telah menyala, bila tidak dipantau akan menyebabkan kebakaran. Kebakaran dapat membesar dan merambat karena kondisi angin yang cukup kencang. “Sejak pertengahan April hingga Mei ini, intensitas hujan sudah berkurang. Lingkungan jadi lebih kering,” katanya.
Ia menjelaskan, dalam kondisi seperti ini, tren insiden kebakaran dapat terjadi seiring dengan semakin keringnya lingkungan. Cuaca terik dan suhu yang lebih panas membuat kondisi jauh lebih kering dan membuat gersang lingkungan. Saat menyalakan api harus dijaga betul. Jika lalai dapat menyebabkan kebakaran.
“Faktor alam menjadi salah satu pemicu. Ditambah dengan kelalaian warga saat menyalakan api. Hal ini menjadi penyebab kebakaran," tuturnya.
Sholehudin juga menjelaskan, ada penyebab lain kebakaran yakni korsleting listrik. Hal ini terjadi karena warga sembrono, meninggalkan jaringan listrik terhubung dalam jangka waktu lama. Sementara didekat jaringan terdapat benda-benda yang mudah terbakar.
Berdasarkan tren, jumlah kebakaran akan merangkak naik sejak Mei sampai puncaknya pada Agustus dan September. Pada bulan tersebut masuk puncak musim angin. Angin lebih kencang dan lingkungan juga lebih kering. “Sampai pekan pertama Mei ada 2 kejadian kebakaran,” ujarnya. (ar/rud) Editor : Jawanto Arifin