Tetapi saat memasuki gerbang, mereka tak bisa masuk. Di depan sekolah, gerbang masih tertutup. Di sekolah yang berlokasi di Dusun Bengkingan Desa Kalirejo, Kecamatan Dringu itu pagarnya terkunci gembok. Di depannya dipasang banner ukuran besar. Siswa jadi bingung, namun tak beranjak dari sekolah.
Banner itu bertulisan: “Untuk Sementara Kegiatan Belajar Mengajar Kami Tutup Dulu. Karena Bangunan Ini Berdiri Di Atas Lahan Milik Warga”
Usut punya usut, banner itu sengaja dipasang Sudirman alias Kadir, 51, warga Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Mayangan Kota Probolinggo. Dia adalah salah satu anak dari ahli waris lahan di SDN 2 Kalirejo.
Praktis, pagi itu sekitar 105 murid SDN Kalirejo 2 yang sudah datang ke sekolah, awalnya hanya bisa duduk dan berdiam diri di tepi jalan depan sekolah. Begitu juga, para guru pun tidak dapat masuk ke dalam.
Melihat kondisi itu, Kepala SDN Kalirejo 2 Umi Mujahidah memutuskan untuk mengajak murid-muridnya di teras rumah warga. Sebagian diajak ke musala sekitar. Seketika itu warga di desa dibuat gempar.
Hingga akhirnya, datang Camat Dringu Heri Mulyadi. Dia bersama Kapolsek Dringu ke lokasi. Mereka mengajak Sudirman untuk musyawarah bersama. Hingga akhirnya, pukul 09.00, Sudirman didampingi camat, kapolsek dan Kepala Desa (Kades) Kalirejo, membuka langsung gembok terus dan banner tersebut.
Spontan, siswa yang tadinya belajar di rumah warga dan musala, langsung berlarian masuk sekolah. Mereka senang akhirnya bisa masuk kelas dan merasakan bangkunya. Belajar seperti biasanya.
Baililo Kaisar, siswa kelas IV mengaku, dirinya saat sampai sekolah Selasa pagi kaget, karena pintu gerbang sekolah ditutup dan digembok. Dia dan teman-teman siswa lainnya akhirnya terpaksa belajar di rumah warga.
”Alhamdulillah sekarang sudah dibuka kembali dan bisa belajar di sekolah lagi. Saya dan teman-teman semua senang sekolah dibuka lagi,” ungkapnya diikuti siswa lainnya. Dia tidak ingin kejadian ini terulang lagi.
Di sisi lain, Sudirman, 51, ahli waris yang menutup SDN Kalirejo 2 mengaku, awalnya dia tidak memiliki rencana menutup sekolah tersebut. Namun, dia merasa kesal karena dalam proses ganti untung lahan yang menjadi haknya sebagai ahli waris, terlalu lama. Hingga akhirnya dia menutup sekolah tersebut.
Sudirman tidak merinci detail apa persoalan perdata yang menyandungnya. Dia hanya menyebut, di lahan SDN tersebut ada 3 nama ahli waris yang merupakan turunan dari kakeknya. Selama ini dia sudah mengurus untuk meminta haknya sebagai ahli waris. Ternyata, kedua ahli waris lainnya prosesnya lama.
”Kalau punya saya sendiri surat-surat ahli warisnya sudah selesai. Cuma dua orang ahli waris lainnya itu lama ngurusnya, tidak tahu kenapa,” ungkapnya.
Sudirman mengharapkan, proses ganti untung lahan yang menjadi haknya bisa segera selesai. Dirinya pun menutup sekolah itu dengan harapan, supaya prosesnya bisa cepat selesai. Karena, dirinya sudah mengurus prosesnya sejak Desember tahun 2021. ”Saya ingin ganti untung ini segera selesai. Hak saya segera dibayarkan,” harapnya.
Sementara itu, Camat Dringu, Heri Mulyadi mengatakan, mendapatkan informasi penutupan sekolah karena status lahan masih milik warga. Sehingga inilah yang membuatnya langsung mendatangi lokasi. Kemudian, mengajak bersangkutan untuk mediasi.
“Alhamdulillah yang bersangkutan dapat memahami. Segel dan kunci rantai yang dipasang oleh Sudirman telah dibuka. Siswa-siwa dan guru dapat melaksanakan kegiatan belajar mengajar seperti biasa,” katanya.
Menurut Heri, pihak Kecamatan Dringu dan Pemdes Kalirejo siap untuk memfasilitasi apabila ditemukan kendala dalam proses penyelesaian admnistrasi oleh pihak ahli waris lainnya. Karena, proses untuk ganti untung itu membutuhkan waktu dan persyaratan lengkap.
“Saat ini kegiatan belajar mengajar sudah berjalan normal,” tambahnya. (mas/fun) Editor : Ronald Fernando