Remaja ini nekat bunuh diri diduga karena kurangnya pengawasan dari orang tuanya. Peran orang tua sangat penting dalam membangun mentalitas anak-anaknya.
“Semoga menjadi pelajaran bagi kita dan orang tua untuk senantiasa mengontrol putra-putrinya. Agar terhindar dari kejadian serupa,” ujar Kepala Kemenag Kabupaten Probolinggo Achmad Seruji Bahtiar.
Kejadian ini, kata Bahtiar, harus menjadi evaluasi bagi seluruh elemen. Baik pendidikan madrasah maupun keluarga. Segala sesuatu yang namanya kecanduan tidak baik, terlebih dilakukan secara berlebihan. Apalagi kecanduan game online dan gadget. Dampaknya bukan hanya pada badan, namun juga psikis dan mentalitas anak.
“Bukan hanya pada badan atau kesehatan, namun psikis anak yang lebih jauh pada aksi nekat yang membahayakan nyawa,” katanya.
https://radarbromo.jawapos.com/daerah/kraksaan/07/03/2023/sering-marah-saat-main-game-online-remaja-di-gading-bunuh-diri/
Secara umum, pihaknya melalui bagian pengawasan Kemenag dan para guru, telah secara aktif menyosialisasikan pemanfaatan teknologi terhadap hal-hal baik. Bahkan, di madrasah, teknologi seperti gadget tidak diperkenankan dibawa.
“Saya yakin pengawas dan guru-guru sudah senantiasa memberi pemahaman pemanfaatan gadget dengan baik. Namun, jika hanya di madrasah, pengawasan kami kan terbatas,” ujarnya.
Adanya kejadian ini, kata Bahtiar, merupakan kejadian yang bersifat kasuistik. Tidak bisa digeneralisasi. Dari 80.000 murid madrasah se-Kabupaten Probolinggo, musibah ini menjadi kali pertama.
“Karena ada keterbatasan pengawasan, peran orang tua sangat penting. Bisa dengan memberi pembatasan penggunaan gadget bagi putra-putrinya yang masih bersekolah. Selain itu, perlu ada kerja sama yang baik dari pihak orang tua dan madrasah,” katanya.
Diketahui, Selasa (7/3), Msb ditemukan gantung diri di ruang tengah rumahnya. Sebelum ditemukan kendat, ia kerap marah-marah. Terutama ketika kalah bermain game online. (mu/rud) Editor : Jawanto Arifin