Kesiapsiagaan tersebut dilakukan pasalnya sesuai dengan peringatan dini BMKG bahwa sejak Rabu (28/12) hingga tujuh hari setelahnya masih berpotensi terjadi cuaca ekstrem di wilayah Kabupaten Probolinggo. Anomali cuaca pun masih dapat dirasakan. Cuaca panas, kemudian dengan cepat berubah menjadi mendung dan hujan deras.
"Sesuai dengan peringatan dari BMKG maka kami jadikan atensi. Tim TRC masih bersiaga. Memantau wilayah yang memiliki potensi terdampak bencana," kata Staf Pusdalops PB BPBD Kabupaten Probolinggo Silvia Verdiana.
Sejauh ini pihaknya masih mewaspadai enam wilayah yang sebelumnya pernah terdampak cuaca ekstrem dan angin kencang. Di antaranya wilayah dataran tinggi meliputi Kecamatan Tiris, Krucil, Kotaanyar, dan Pakuniran. Sementara di wilayah dataran rendah meliputi Kecamatan Kraksaan dan Gending.
Selain menyiagakan TRC, koordinasi secara intensif dilakukan BPBD dengan relawan yang berada di tiap kecamatan. Hal ini perlu dilakukan untuk mitigasi dan percepatan penanganan sekaligus asesmen pada wilayah terdampak.
"Dampak bencana yang dapat ditimbulkan di dataran tinggi masih sama seperti sebelumnya. Yakni tanah longsor. Sementara untuk di dataran rendah banjir dan pohon tumbang," bebernya.
Silvia menyampaikan bahwa mitigasi risiko bukan hanya kewenangan BPBD. Masyarakat juga memiliki peranan penting dalam melakukan upaya mitigasi. Seperti melakukan penghijauan kembali wilayah potensi longsor, membersihkan drainase pada wilayah yang berpotensi banjir, serta memangkas pohon berdaun lebat dan menebang pohon yang sudah lapuk pada wilayah yang berpotensi pohon tumbang.
"Jika hal itu (mitigasi, Red) dilakukan maka dampak yang bisa ditimbulkan dapat diminimalisir. Baik dampak materiil hingga antisipasi jatuhnya korban jiwa," pungkasnya. (ar/fun) Editor : Jawanto Arifin