Seperti Karimullah, 30, warga Desa Kertosono, Kecamatan Gading. Ia mengaku tak tahu menahu tentang siaran televisi digital yang diterapkan pemerintah. Tiba-tiba, pada Rabu (21/12) pagi televisi di rumahnya tak dapat menayangkan siaran. Gambarnya hilang.
“Mau berangkat kerja, ngidupin sudah bersemut (tanpa channel). Kaget, takut usai tidur semalam tersambar petir. Tidak ada channel sama sekali. Gak tau kalau ternyata ada siaran digital itu,” ujarnya, Rabu (21/12).
Ari –sapaannya- mengatakan, suntik mati televisi analog tidak disangka-sangkanya. Sehingga, saat ini dia mencari informasi bagaimana caranya agar televisi di rumahnya kembali menyala.
“Kalau dari keterangan tetangga, harus pasang set top box (STB,Red) apa gitu. Nah ini saya yang gak tahu. Belinya di mana, harganya berapa, dan pemasangannya bagaimana? Saya tidak tahu,” katanya.
Keluhan juga diungkapkan Musrifatun, 36, wanita asal Kecamatan Krejengan. Kemarin, televisi di rumahnya juga tidak bisa lagi menangkap gambar.
Sebenarnya, Musrifatun pernah mendapatkan informasi bahwa siaran televisi analog akan dimatikan. Kemudian diganti siaran digital. Namun, hal itu tidak diindahkannya.
“Saya kira bohongan, ternyata beneran. Pas mau nonton pagi tadi (kemarin) sudah gak bisa. Belum ada persiapan buat beli STB. Sementara ini gak lihat televisi dulu,” ujarnya.
Selain dirinya, Mus –panggilannya- mengaku sejak pagi banyak tetangganya mengeluhkan hal yang sama. Bahkan, ada yang datang ke rumahnya untuk memastikan kebenaran apakah televisi di rumah Mus juga mati.
“Sampai tetangga datang ke rumah dan menghidupkan televisi di rumah saya. Mereka gak percaya televisi di rumah mati. Hasilnya ya sama. Sama-sama mati,” ujarnya.
Kegaduhan di tengah warga Kabupaten Probolinggo tentang matinya televisi analog ditanggapi Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Probolinggo Yulius Christian. Ia mengatakan, analog switch off (ASO) atau suntik mati televisi analog merupakan kebijakan pemerintah pusat. Dari informasi yang didapatnya, ASO dilakukan pada wilayah siaran Jatim I sejak tanggal 20 Desember.
Namun, banyak warga Probolinggo yang justru tak bisa menikmati layanan. Walau bukan termasuk daerah siaran Jatim I. Penyebab matinya televisi di Kabupaten Probolinggo, menurutnya, bisa jadi dampak dari jaringan yang dimatikan di wilayah barat, Pasuruan atau Surabaya.
“Bisa jadi karena jejaring yang berparalel. Sehingga beberapa televisi analog milik warga Probolinggo ikut mati karena dampak matinya TV analog di Jatim I. Warga diharapkan mengerti karena itu kebijakan pemerintah pusat. Tidak menutup kemungkinan Probolinggo dan sekitarnya juga akan dilakukan hal yang sama,” ujarnya.
Menurutnya, sejauh ini pemerintah pusat melalui kementerian melakukan proses peralihan. Di mana peralihan tersebut salah satunya dilakukan dengan memberikan bantuan STB kepada masyarakat.
“Proses pemberian bantuannya dilakukan oleh kementerian. Jadi daerah tidak tahu. Juga menggunakan pihak ketiga dalam penyalurannya. Yakni, pihak televisi sendiri. Begitu pun jumlah penerimanya yang tahu kementerian,” ujarnya.
Di Kabupaten Probolinggo sendiri, disebut Yulius, bantuan STB telah disalurkan di beberapa kecamatan. Yakni, Kecamatan Dringu dan Pajarakan. Dengan rincian 1.783 orang penerima di kecamatan Pajarakan dan 1.721 penerima pada Kecamatan Dringu.
“Sejauh ini data yang kami terima seperti itu. Penerima bantuan STB ini adalah warga miskin. Kami berharap bantuan ini benar-benar diterima oleh warga yang memang benar-benar layak,” ujarnya. (mu/hn) Editor : Ronald Fernando