Ketua PW NU Jatim KH Marzuqi Mustamar, menyebutkan, adanya peningkatan inflasi sejatinya tidak begitu berdampak terhadap masyarakat di pedesaan. Namun begitu perlu adanya kebersamaan dalam pengendalian bersama pada inflasi tersebut.
“Kami dikepung, tidak begitu terasa dengan inflasi. Apalagi di NU. TPQ tetap jalan, kenduren tetap jalan. Karena ada kebersamaan melalui sejumlah acara tersebut,” ujarnya.
Budaya rukun dan guyub dari masyarakat pedesaan secara tidak langsung dapat memberikan pengendalian pada inflasi. Sehingga, menurutnya hal tersebut dapat terus dilakukan. “Dengan adanya kebersamaan seperti kenduren dan lain sebagainya, masyarakat pedesaan bisa terus hidup,” ujarnya.
Beriringan dengan laju inflasi yang mengalami peningkatan ini, menjaga kebersamaan masyarakat ini sangatlah penting. “Yang kita khawatirkan nilai rupiah rendah. Terus ada pihak yang terus melawan, selametan haram, ini haram. Maka bisa mati berdiri,” katanya usai halaqoh fiqh di Pesantren Zainul Hasan Genggong, Kabupaten Probolinggo, Senin (5/12).
Dalam kesempatan itu, KH Marzuqi juga turut berduka cita atas adanya bencana erupsi gunung Semeru. Sejumlah penanganan telah dilakukan. “Kami telah instruksikan LazisNu untuk turun langsung. Terkait sejumlah bantuan. Baik pendidikan maupun yang lainnya,” ujarnya.
Ia meminta kepada seluruh warga nahdliyin agar lebih mendekatkan diri kepada Allah untuk mendoakan agar dijauhkan dari bencana.
Dari data yang didapat, secara year on year sebesar 5,71 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 112,75. Sementara itu, inflasi di Jawa Timur terjadi inflasi yoy sebesar 6,65 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 113,21.
Inflasi year on year tertinggi terjadi di Jember sebesar 7,23 persen dengan IHK sebesar 114,08 dan terendah terjadi di Probolinggo sebesar 5,43 persen dengan IHK sebesar 111,03. Namun secara month to month (mtm) laju inflasi di Probolinggo sebesar 0,16 persen. Persentase ini tercatat sebagai daerah dengan kenaikan inflasi tertinggi di Jawa Timur.
Komoditas Pangan Ikut Mempengaruhi
Kota Probolinggo mengalami inflasi pada November sebesar 0,37 persen. Sementara, laju inflasi tahunan 4,76 persen. Inflasi didorong oleh sejumlah komoditas pangan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Probolinggo, Heri Sulistio mengungkapkan inflasi bulan lalu lebih tinggi dari inflasi Jawa Timur sebesar 0,32 persen dan Indonesia yang hanya di 0,09 persen.
Namun jika dibandingkan periode yang sama pada 2020, inflasi tahun ini lebih rendah. Karena saat itu inflasi bulanan mencapai 0,41 persen. Sementara pada tahun lalu, tingkat inflasi hanya 0,24 persen.
“Jika dibandingkan Jatim dan nasional, Kota Probolinggo lebih tinggi. Tapi, sepanjang tahun ini, inflasi November terendah kedua setelah Oktober 0,16 persen. Rata-rata inflasi bulanan tahun ini di atas angka 0,40 persen,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Malang, Samsun Hadi menjelaskan, inflasi tahunan Kota Probolinggo masih relatif tinggi karena di atas target tiga persen plus minus satu persen. Namun dibandingkan kota/kabupaten IHK lain di Jatim yang terendah untuk inflasi tahunan.
Inflasi yang tinggi ini dipicu kenaikan komoditas pangan. Seperti, tempe karena harga kedelai di pasar global meningkat mengingat pasokan dalam negeri didominasi oleh impor. Komoditi telur ayam ras dan daging ayam ras juga turut memicu tren inflasi. Harga telur ayam ras berkisar Rp 22 ribu hingga Rp 24 ribu per kilo di tingkat produsen dan daging ayam ras dijual antara Rp 21 ribu sampai Rp 23 ribu per kilo.
Faktor hujan turut menurunkan produksi telur dan ayam. Sementara, bawang merah juga turut memicu inflasi seiring dengan pasokan yang lebih sedikit di pasar akibat tingginya curah hujan di sejumlah wilayah sentra. (mu/riz/fun) Editor : Jawanto Arifin