Rumah Mistari memang berada di bibir sungai. Rumah berukuran 8 x 2 meter itu memiliki tiga ruangan. Yakni, ruang tamu, kamar, dan dapur.
Mistari sendiri sudah menduga dinding rumahnya akan ambruk. Sebab, saat hujan air sungai terus naik. Dan prediksinya benar.
https://radarbromo.jawapos.com/news/19/11/2022/hujan-lima-jam-sungai-kertosono-meluap-tujuh-desa-dan-kelurahan-banjir/
Sekitar pukul 08.10, terdengar suara retakan dari dinding rumahnya. Dan brakk, dinding rumah itu pun ambruk. Dinding ambruk ke arah barat dan jatuh ke sungai. Mistari saat itu berada di rumah bersama anak, menantu, dan cucunya.
"Yang ambruk dinding sebelah barat ruang tamu. Ruangan biasanya saya pakai kumpul bersama keluarga saat senggang," ujarnya.
Pria yang bekerja sebagai tukang becak ini pun hanya bisa pasrah dan menutup dinding tersebut dengan sebuah terpal. Agar ruangan rumahnya tidak terlihat oleh warga lainnya.
Tidak hanya sekarang ambrol. Pada tahun 2001, dinding dapur rumah tersebut juga ambrol. Posisinya di sisi utara dinding yang saat ini ambruk. Karena kondisi ekonomi yang pas-pasan, sampai sekarang dinding dapur yang ambrol itu juga belum dibangun. Hanya ditutup terpal.
"Mencukupi kebutuhan sehari-hari saja sudah susah. Sehari pendapatan hanya Rp 25 ribu sampai Rp 75 ribu. Jadi untuk memperbaiki dinding harus nabung," curhatnya.
Staf fungsional Penata Kebencanaan Muda di BPBD Kabupaten Probolinggo, Nurul Wahyudi mengatakan, pihaknya saat ini masih melakukan asesmen dampak bencana. Belum diketahui pasti ada berapa rumah yang mengalami kerusakan karena banjir.
"Masih kami lakukan asesmen, petugas sudah terjun ke lokasi melakukan pendataan," bebernya. (ar/hn)