Kemarin (4/10) pagi, Wabup takziah bersama sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkab Probolinggo. Selain menghormati keluarga korban, takziah dilakukan untuk merasakan duka yang dialami keluarga korban.
Takziah pertama di kediaman keluarga Abian Hasiq Rifqi, 18 di Kelurahan Kandang Jati Kulon, Kecamatan Kraksaan. Suasana duka masih menyelimuti keluarga tersebut. Puluhan petakziah memadati ruang tengah. Sejumlah papan karangan bunga juga berdiri berjajar di halaman rumah.
Wabup disambut Mul Subiantoro, orang tua Abian Hasiq Rifqi. Kedua kakaknya juga menemani Wabup dan rombongan di ruang tamu. Selain bertakziah Wabup juga memberikan santunan.
“Saya atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Probolinggo mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya,” katanya.
Abian Hasiq Rifqi merupakan mahasiswa baru di Universitas Islam Malang (Unisma). Putra pasangan Mul Subiantoro-Rupiati itu baru menyelesaikan Ospek atau orientasi studi dan pengenalan kampus. Abian sendiri sudah sebulan berada di Malang. Anak ketiga dari tiga bersaudara itu, mengambil jurusan Teknik Sipil.
Usai dari Kandang Jati Kulon, rombongan beranjak ke Desa Besuk Kidul, Kecamatan Besuk. Wabup Timbul Prihanjoko disambut Subadri. Orang tua Moh. Kindi Arrumi Purnama atau Aril, 16 yang juga korban meninggal tragedi Kanjuruhan. Selain memberikan santunan, Wabup dan rombongan juga mengikuti tahlil bersama.
“Tragedi kanjuruhan yang menyebabkan banyak korban jiwa ini merupakan takdir. Meninggalnya seseorang bisa di mana saja dan kapan saja. Allah SWT lebih sayang kepada nanda Aril sehingga dipanggil. Semoga nanda Aril husnul khotimah. Keluarga yang ditinggalkan bisa tabah dan sabar,” ujar Wabup.
Wabup berharap tragedi Kanjuruhan memberikan hikmah yang bisa dipetik semua pihak. Sehingga, ke depan tidak ada lagi kejadian serupa yang merenggut nyawa. Ia juga meminta kepada suporter untuk bisa memanage fanatisme. Sebab, dalam sebuah pertandingan olahraga, ada yang menang dan kalah.
“Tentunya kejadian ini menjadi catatan dan perhatian kami. Kepada instansi terkait, selanjutnya tidak hanya membina cabang olahraganya saja. Namun, suporternya juga dibina. Karena komunitas sepakbola di sini ternyata banyak. Seperti Aremania,” katanya.
Subadri orang tua Aril berharap, tragedi di stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang itu menjadi kejadian yang terakhir. Dia minta agar penyelenggara pertandingan dan aparat keamanan bisa menghargai suporter. Termasuk memiliki prosedur penanganan ketika terjadi kerusuhan. Sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.
“Dengan segala hormat. Andaikan panitia penyelenggara menghargai suporter, anak saya mungkin tidak meninggal. Informasi dari temannya yang selamat, anak saya waktu itu kena gas air mata. Tidak bisa melihat. Jadi tangannya dipegangi terus oleh temannya hingga ke pintu. Namun karena tidak kuat, ia lepas dan tidak bisa dicari,” katanya.
Ia juga mengucapkan terima kasih atas kehadiran Wabup dan rombongan ke kediamannya untuk bertakziah dan mengikuti tahlil. “Semoga kehadiran dan kebaikan bapak-bapak semua ini di balas oleh Allah SWT,” katanya.
Usai dari Kraksan dan Besuk, sore harinya Wabup Timbul Prihanjoko bersama rombongan melanjutkan takziah ke kediaman keluarga Rizki Dwi yulianto, 19. Korban tragedi Kanjuruhan asal Desa maron Kidul, Kecamatan Maron.
Dalam takziah itu, Wabup hadir bersama Asisten Pemerintahan dan Kesra Heri Sulistyanto, Kepala Dinas Sosial Achmad Arif, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Sugeng Wiyanto, Kepala Kesbangpol Ugas Irwanto, dan Kabag Kesra Didik Abdul Rohim. Hadir pula Forkopimka beserta kades terkait. (uno/hn) Editor : Ronald Fernando