PROGRAM pendidikan di Unzah Genggong semakin lengkap. Sejak 2021, kampus di bawah naungan Pesantren Zainul Hasan Genggong ini mengembangkan program bahasa asing melalui Pusat Studi Bahasa Asing (PSBA).
Awalnya, PSBA Unzah Genggong mengembangkan program penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Sejak tahun kemarin, dikembangkan dengan menambah lima bahasa asing. Yakni, bahasa Cina, bahasa Jepang, bahasa Korea, bahasa Perancis, dan bahasa Jerman.
Setelah setahun berjalan, 520 mahasiswa yang lulus program bahasa asing dikukuhkan dalam Yudisium PSBA Angkatan Tahun 2021-2022, kemarin. Sebelumnya, mereka juga diuji oleh dosen masing-masing. Mahasiswa semester tiga itu lulus program bahasa asing setelah belajar selama setahun di PSBA.
Yudisium PSBA ini dihadiri Konsulat Jenderal (Konjen) Jepang di Surabaya Mr. Takeyama Kenichi. Ia mengapresiasi atas dibukanya PSBA tujuh bahasa asing di Unzah. Apalagi mahasiswanya juga rutin mengikuti kompetisi internasional hingga melahirkan prestasi internasional.
“Saya bangga, karena di universitas ini sudah diprogramkan penguasaan bahasa asing. Mahasiswa sudah difasilitasi. Bahasa asing adalah sarana berkomunikasi secara internasional. Dengan bahasa asing, bisa kuliah dan bekerja di luar negeri. Termasuk untuk mengukir prestasi internasional,” katanya.
Rektor Unzah Genggong Dr. Abd Aziz Wahab, M.Ag. mengatakan, program penguasaan tujuh bahasa asing, itu untuk mendukung Unzah Genggong menjadi kampus go international. Salah satunya diwujudkan dengan menjuarai 18 kompetisi internasional sejak 2021.
“Dengan ini, kampus Unzah Genggong adalah kampus khoiru ummah, kampus juara, dan kampus tujuh bahasa. Dengan penguatan bahasa asing, kampus berbasis pesantren ini jangkauannya bisa lebih luas. Bisa ke luar negeri,” katanya.
Sebagai bentuk pengabdian mahasiswa di tingkat internasional, Unzah juga telah memprogramkan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional. Pada 2023, Unzah akan mengirim mahasiswanya mengikuti KKN di Thailand. “Bisa mengajar di luar negeri melalui KKN Internasional,” katanya.
Melalui program KKN Internasional, ke depan mahasiswanya juga akan dikirim ke sejumlah negera. Di antaranya, Malaysia, Singapura, hingga Brunei Darussalam. Syaratnya, mahasiswa itu minimal hafal 15 juz Alquran dan menguasai tiga bahasa asing.
“Kami juga akan membuka program short course. Ada satu kelas tertentu, di mana mahasiswa tidak langsung kuliah. Namun, mengikuti short course bahasa asing dulu hingga dua bulan. Selanjutnya, kami pilih yang terbaik untuk menjadi duta bahasa asing di pesantren-pesantren. Serta, di SMA, MA, dan SMK negeri dan swasta,” katanya.
Sebagai penguatan bahasa asing, kata Dr. Aziz, pihaknya juga akan membuat sebuah kitab kuning yang akan dimaknai atau diartikan dengan bahasa asing. “Di pesantren ada tradisi ngaji kitab kuning. Nanti salah satu kitab akan kami maknai dengan tujuh bahasa asing itu,” tuturnya. (uno/*) Editor : Ronald Fernando