Jenazah itu tak lain adalah Asan, 50. Warga Desa Krampilan Kecamatan Besuk. Sementara balita yang berusia dua tahun tersebut, ternyata anak Asan. Sang anak menangis karena sang ayah tak bergerak lantaran meninggal.
Singkatnya, warga kemudian mengetahui identitas Asan. Kemudian menghubungi pihak keluarga yang tak lama berselang datang ke lokasi. Kematian Asan pun meninggalkan kejanggalan bagi keluarga dan sempat menduga almarhum jadi korban kejahatan.
Kecurigaan itu seperti yang diungkapkan Hamid, 51, salah satu kerabat korban. Sebelum ditemukan meninggal, mulanya Asan bersama dengan AN, anaknya yang baru berusia dua tahun, pamit untuk ke Dusun Kebangan. Asan hendak menyambangi keluarga, sekaligus caring atau berjemur. Asan memang punya kebiasaan berjemur untuk menjaga kesehatannya.
“Berangkat dari rumah pukul 07.00 dengan menggunakan sepeda motor Honda Vario,” kata Hamid, Jumat sore.
Hingga kemudian, sekitar pukul 10.00 pihak keluarga dihubungi bahwa Asan ditemukan tergelatak tak bernyawa di sekitar makam Cona. Secepatnya pihak keluarga menuju lokasi.
“Usai salat Jumat almarhum sudah dikebumikan,” terang Hamid. Namun yang membuat pihak keluarga curiga, ketika melihat kondisi jok motor Asan yang rusak. Kerusakan itu diduga akibat dibongkar paksa. Selain itu juga, informasi yang diterima Hamid melalui istrinya Asan, jika uang Rp 4 juta yang ada di lemarinya, tidak ada. Dimungkinkan uang tersebut dibawa oleh Asan.
Kecurigaan lain adalah saat jenazah Asan dimandikan. Di dada Asan terdapat seperti bekas cakaran. Kancing baju yang dikenakan Asan semuanya lepas. Celananya pun melorot.
“Itu yang bikin kami janggal. Namun jika memang murni pencurian, kami juga heran mengapa anak perempuan yang saat itu memakai dua gelang dan satu kalung, masih ada. Hanya saja satu gelangnya patah. Tapi semuanya masih ada. Namun uang yang diduga dibawa Asan senilai Rp 4 juta, tinggal 400 ribu. Uang itu diletakkan di topi yang kemudian dipakaikan helm,” katanya.
Pihak keluarga juga sempat heran. Usai kejadian, asa aparat yang datang. Namun aparat tersebut seolah mengintervensi agar pihak keluarga tidak membuat laporan.
“Harusnya kan ditanya. Berangkat jam berapa? Bawa apa? Nah, ini tidak. Malah seolah menekan dan bilang jika kasusnya dilanjutkan, maka jenazah harus dibongkar untuk diotopsi dan itu membutuhkan biaya. Karena kami keluarga tidak mampu, maka kami terpaksa ikut sarannya untuk tidak melanjutkan kasus itu,” kata Hamid pada saat dihubungi. (rpd/fun) Editor : Jawanto Arifin