Tingginya harga sejumlah komoditi dapur tersebut salah satunya diungkap Musdalifah, 39, salah pedagang sayur di Pasar Semampir. Ia mengatakan, sejauh ini harga komoditi dapur melonjak tinggi ada pada cabai rawit.
"Tergantung dari kualitasya. Kalau yang campur hijau merah Rp 100 ribu perkilonya. Kalau yang bagus, merah-merah segar Rp 110 ribu," katanya, minggu (19/6).
Ia menuturkan, tingginya harga cabai rawit harga kulakannya sudah tinggi. Hal tersebut sama halnya dengan harga tomat yang juga mengalami kenaikan cukup signifikan. "Tinggi dari pemasoknya. Kalau di harga petani jelas dibawah itu. Mungkin berkisar Rp 70-80 ribu. Tomat saat ini juga mahal Rp 19 ribu perkilonya," kata Musdalifah.
Dengan tingginya harga, lanjutnya, Musdalifah tidak berani memasok cabai terlalu banyak. Sebab, saat ini penjualan tidak normal. Banyak konsumen yang membeli komoditi pedas tersebut mengurangi pembeliannya.
"Tidak banyak stok yang saya ambil. Konsumennya sedikit. Barang seperti ini kan tidak lama," bebernya.
Disamping itu, lanjutnya, para konsumen seperti pemilik warung makan dan kuliner lain yang menggunakan daging sapi saat ini mulai menurunkan pembelian cabe rawit nya. Sebab Penyakit Kuku Dan Mulut (PMK) mempengaruhi omzet para pemilik usaha makanan.
"Saat ini seperti pedagang bakso dan lainnya juga banyak yang mengurangi produksi. Akibatnya, biasanya yang beli 2 kilo cabai rawit, kini mengurangi pembeliannya. Sehingga tidak mudah laku," jelasnya.
Sementara itu, Fiki 31, salah satu petani asal Kecamatan Gading mengatakan cukup bersukur dengan adanya harga yang menguntungkan para petani seperti dirinya. Meski begitu, ia menyebutkan harga tersebut tidak cukup banyak membuatnya untung. Sebab produktivitas pada lahan pertaniannya menurun.
"Saat ini kondisi tanam cabai rawit cukup terganggu karena cuaca yang tak menentu. Banyak cabai yang terserang cacar, atau terkena lalat buah. Jadi rusak. Sehingga, meski harga tinggi produktivitas rendah," jelas Fiki. (mu/fun) Editor : Ronald Fernando