Ahmad Zulfikar, salah satu petani asal Desa Opo-opo, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, mengatakan, memang harga cabai sangat menguntungkan petani saat ini. Namun, hal itu bertolak belakang dengan produksi cabai.
"Harganya memang pedas (tinggi). Tapi, produksinya terganggu. Normalnya satu hektare lahan cabai bisa panen dua kuintal. Tapi sekarang turun separonya. Sekitar satu kuintal saja dapatnya,” terang Fikar –panggilannya-, Minggu (5/6).
Menurutnya, produksi cabai turun lantaran hama penyakit banyak menyerang tanaman cabai. Cuaca yang tidak menentu, menjadi penyebab hama penyakit menyerang.
“Cuaca tidak menentu. Kadang hujan, kadang panas. Tapi, hujan lebih sering turun. Ini tidak baik untuk tanaman cabai. Cuaca seperti ini menyebabkan cabai rentan terserang hama," katanya.
Salah satu hama atau penyakit yang menyebabkan gagal panen adalah cacar cabai. Cabai yang terserang cacar akan terdapat bintik hitam.
"Kalau sudah terserang cacar ya tidak dipanen. Karena tidak laku dijual. Ditinggal saja biasanya di pohonnya," lanjutnya.
Dengan turunnya produksi dan naiknya harga cabai, petani menurutnya, cukup diuntungkan. Walaupun keuntungannya tidak seberapa. "Masih bisa dibilang untung, meski produksi terganggu. Tapi ya tidak banyak," katanya.
Fauzan, salah satu pedagang sayur di Pasar Semampir, Kraksaan, mengatakan, hujan membuat produksi cabai menurun. Walaupun masih bisa didapat.
"Tidak sulit sebenarnya untuk dapat cabai, tapi tidak melimpah juga. Saya ambilnya memang tinggi harganya. Akhirnya, dijual ya tinggi juga harganya. Kalau merah dan bagus bisa mencapai Rp 110 ribu sampai Rp 120 ribu per kilogram. Kalau yang masih hijau di bawahnya," katanya. (mu/hn) Editor : Jawanto Arifin