Sebelum razia, personel yang menggunakan seragam warna kecoklatan lengkap dengan sepatu bootnya, Satpol PP lebih dulu melakukan apel persiapan di markasnya di Gedung Islamic Center (GIC) Kraksaan. Mereka sudah memetakan wilayah mana saja yang akan menjadi sasaran.
"Kami utamakan langkah-langkah humanis dalam razia nanti. Jangan sampai ada kekerasan. Apalagi, yang akan diamankan adalah perempuan," kata Budi Utomo, Kasi Penyidikan dan Penindakan Satpol PP, sebelum mengakhiri apel siang Itu.
Begitu apel selesai, personel bergerak ke arah barat, tepat di barat Jembatan Semampir sebelah selatan. Di sana, setidaknya 5 warung berderetan terbangun tepat di tepi sungai. "Ayo langsung saja bergerak" kata Budi.
Lokasi pertama yang didatangi, tepat di warung ujung selatan. Bangunannya semipermanen. Begitu tiba, personel langsung sigap masuk ke warung yang di dalamnya terdapat tiga kamar tersebut. Kamar itu ditengarai dipakai untuk menservis pelanggan pria hidung belang.
Dari salah satu kamar muncul satu orang wanita dan diikuti satu orang wanita lain yang lebih tepat disebut anak baru gede (ABG). Dua wanita tersebut adalah, FI, 21, dan EV. Keduanya warga Kecamatan Kotaanyar. "Yang kerudung coklat (FI) ini keponakan saya," kata SA, 38, bos atau mucikari kedua perempuan tersebut.
Kedua PSK tersebut lalu digiring dari warung oleh petugas sembari malu-malu menutupi mukanya. "Sudah pernah bekerja seperti ini di lokasi lain. Ini pindah," kata FI polos saat ditanya Jawa Pos Radar Bromo.
FI menyebutkan sejatinya dirinya adalah seorang janda anak dua. Pernikahan dengan suaminya kandas lantaran faktor ekonomi. "Sudah pisah. Karena tidak betah melarat. Ingin mencari uang sendiri," katanya lagi.
Tarif yang dipatok sekali servis para pria hidung belang diungkap FI adalah Rp 150 ribu. Sehari, ia bisa sampai melayani dua orang pria hidung belang.
Razia dilanjut ke warung kedua, tepat di utara warung pertama. Bangunan dari anyaman bambu itu memiliki ruang tamu sederhana. Di dalamnya ada dua kamar yang digunakan untuk menservis pelanggan.
Dari dalam salah satu kamar muncul YY, 37, salah satunya PSK dari mucikari IT, 35. Keduanya sama-sama berasal dari selatan Kabupaten Probolinggo, yakni Tiris dan Krucil.
"Bentar-bentar dulu Pak. Ini masih mau ganti baju dulu," kata IT saat hendak dibawa oleh petugas. Tiga PSK beserta dua mucikari itu kemudian digiring Satpol PP ke markas untuk dimintai keterangan.
"Malu saya, jangan difoto. Tidak tahu kalau akan ada penggerebekan," kata YY.
Saat berada di Markas, sejumlah wanita penghibur yang diamankan tersebut diminta oleh petugas untuk menandatangani surat perjanjian tidak akan mengulangi hal tersebut.
"Kami amankan karena menjelang menjelang Ramadan. Keseluruhan PSK ini telah didata dan akan dipantau. Jika nanti ditemukan gerak-gerik seperti ini akan kami amankan untuk dimintai keterangan. Sekaligus memanggil keluarganya," teang Kasat pol PP Aruman.
Razia serupa tidak hanya akan dilakukan Satpol PP saat ini saja. Jelang hingga berlangsungnya Ramadan nanti, razia akan terus dilakukan. Mengingat, lokasi yang disinyalir menjadi tempat prostitusi ini masih cukup banyak di Kabupaten Probolinggo. (mu/fun) Editor : Jawanto Arifin