Salah seorang petani asal Desa Kertosono, Kecamatan Gading Aqiqurrahman, 33, mengatakan, harga cabai di kalangan petani mulai menurun dibanding beberapa pekan lalu. “Harga di petani beragam. Ada tengkulak yang ambil Rp 9.500 per kilogram. Tadi saya tanya teman ada yang ambil Rp 12.000 di daerah selatan,” ujarnya, Minggu (22/8).
Menurutnya, harga itu sangat jauh dibandingkan beberapa pekan yang lalu. Beberapa pekan lalu cabai keriting merah masih Rp 25.000 sampai Rp 30.000 per kilogram. Harga cabai hijau masih di bawahnya. “Kami sebagai petani masih waswas. Khawatir nanti harga tambah anjlok,” ujarnya.
Kekhawatiran muncul juga akibat harga tembakau yang saat ini juga masih belum jelas. Sehingga, jika harga cabai juga terus turun, akibatnya aka mengalami kerugian doble. “Kalau di sini menanam tembakau itu juga diikutkan tanaman cabai. Paling tidak, jika tembakaunya rugi, bisa tertutupi harga cabai. Kalau dua-duanya rugi, kan doble,” jelasnya.
Hasanuddin, petani asal Desa Kertosono, mengatakan petani cabai memang sedang galau. Namun, petani tomat sedikit semringah. Karena, harganya masih bagus. “Harganya Rp 14.000 per kilogram di kalangan petani. Jadi, bisa dikatakan 1 buah tomat dihargai Rp 1.000,” ujarnya, tersenyum.
Harga tomat, kata Hasanuddin, sebelumnya memang sudah naik. Dari Rp 10.000 per kilogram sampai menyentuh belasan ribu. “Saat ini belum panen, hanya sebagian. Semoga tiga hari ke depan masih seperti itu (harganya),” harapnya.
Kepala Pasar Semampir Joeli Santoso, membenarkan harga cabai merah keriting menurun signifikan. Pada Juli lalu masih Rp 45 ribu. Bahkan, pada akhir Juli sempat naik menjadi Rp 60 ribu.
“Saat ini harga di Pasar Semampir Rp 15.000 per kilogram. Mungkin karena saat ini barangnya banyak. Sesuai hukum ekonomi, jika barang berlimpah, harga akan murah,” ujarnya, kemarin. (mu/rud) Editor : Jawanto Arifin