Dia meninggal Minggu (27/6) siang saat mandi di sungai itu bersama kakaknya, Jesika, 11. Keduanya mandi di sungai sekitar pukul 09.00. Siang pukul 12.00, kakak korban pulang sendirian sambil menangis.
Korban sendiri tinggal di RT 13/RW 4, Dusun Krajan 4, Desa Condong. Minggu pukul 09.00, korban ke aliran Sungai Pekalen untuk main bersama kakaknya. Ibu mereka, Sulastri ada di rumah. Jaraknya sekitar 2 kilometer dari sungai itu
Awalnya, mereka hanya main di sungai. Tak lama kemudian, mereka mandi di sana. Sungai itu sendiri biasa digunakan sebagai rute olahraga arung jeram (rafting) Desa Condong. Warga setempat juga menggunakannya untuk mandi.
“Memang biasa digunakan untuk tempat mandi lokasi tersebut. Saat itu korban mandi bersama kakaknya,” ujar Kepala Desa Condong Ammar Jasuri, Minggu (27/6).
Sekitar pukul 12.00, kakak korban Jesika yang tunarungu pulang sendirian. Sesampainya di rumah, Jesika bertemu dengan Abdullah, 34, pamannya. Saat itu, Jesika diam saja sambil menangis.
Abdullah akhirnya curiga. Sebab, Jesika pulang sendirian sambil menangis. “Keluarga nanya, adiknya ke mana kok pulangnya sendirian. Saat itu kakaknya hanya nangis. Keluarganya akhirnya curiga. Sebab, mereka mandi pukul 09.00 sampai siang. Sampai jemuran di rumah korban kering semua,” ujarnya.
Menurutnya, lokasi tempat mandi korban sejatinya menjadi tempat mandi masyarakat sekitar. Namun nahas, saat kejadian tidak ada warga sama sekali yang mandi di sana.
“Hanya korban dan kakaknya tersebut. Kebetulan tidak ada yang lain,” ujarnya.
Karena Jesika pulang sendirian, pamannya Abdullah langsung berinisiatif mencari korban. Dia mencari ke sungai tempat korban dan kakaknya mandi.
“Merasa ada yang tidak beres, paman korban kemudian memutuskan mencari keponakannya dengan meminta bantuan tetangga dan warga sekitar,” terang Kapolsek Gading Iptu Sugeng Riyadi.
Tidak lama kemudian, pencarian berhasil. Korban ditemukan mengambang sekitar 300 meter dari tempat mandi. Yaitu di Dusun krajan 3, RT 08/RW 03.
Saat ditemukan, korban sudah meninggal. Tubuhnya tersangkut di bebatuan. Saat itu juga, jenazah korban langsung dibawa pulang.
“Olah TKP sudah kami lakukan setelah petugas piket Polsek Gading mendapat laporan dari pemerintah desa setempat. Kami juga sudah mendatangi rumah duka dan turut berduka cita atas insiden ini,” ujar mantan KBO Satreskrim Polres Probolinggo ini.
Pihak keluarga, menurut Sugeng, tidak berkenan korban diotopsi luar. Keluarga menganggap ini sebagai musibah.
“Jadi, sekitar 30 menit setelah ditemukan, korban langsung dikebumikan. Pihak keluarga ikhlas dan tidak akan ada tuntutan apapun,” ujarnya. (mu/hn) Editor : Jawanto Arifin